MALUKU UTARA — Masker N95 adalah pilihan paling efektif untuk menyaring partikel abu vulkanik. Guru Besar Departemen Pulmonologi dan Kedokteran Respirasi FKUI, Prof. Dr. Faisal Yunus, Ph.D., Sp.P(K), menyebut masker ini mampu menahan hingga 95 persen partikel di udara.
"N95 itu masker yang bisa menahan 95% partikel yang ada di udara. Jadi yang masuk itu tetap ada, tapi cuma 5%, jadi lebih sedikit masuknya," ujarnya pada Senin (7/9/2026).
2. Masker Duckbill, Lebih Baik daripada Tanpa Pelindung
Jika N95 sulit ditemukan, masker biasa seperti model duckbill bisa jadi alternatif. Prof. Faisal menegaskan penggunaannya tetap lebih baik daripada tidak memakai pelindung sama sekali.
Perlu diingat, kemampuan filtrasi masker jenis ini terhadap partikel halus jauh lebih rendah dibandingkan N95. Jadi, tetap utamakan mencari N95 untuk perlindungan maksimal.
3. Masker Kain Basah, Waspada Rasa Aman Palsu
Banyak yang membasahi masker kain dengan alasan membantu debu menempel. Secara teori, air memang bisa membuat partikel menempel di permukaan masker.
Namun, dr. Sukamto Koesnoe, Wakil Ketua I Pengurus Pusat PAPDI, memperingatkan bahayanya. Masker basah justru menciptakan "rasa aman palsu" karena udara lebih sulit ditembus, membuat pernapasan berat dan lembap—kondisi ideal untuk pertumbuhan kuman.
4. Masker untuk Anak, Prioritas Utama Tetap di Rumah
Melindungi anak dari abu vulkanik tidak bisa mengandalkan masker dewasa. Menurut dr. Sukamto, masker N95 umumnya tidak bisa menutup wajah anak kecil dengan rapat, sehingga perlindungannya tidak optimal.
Solusi terbaik untuk si kecil adalah tetap berada di dalam rumah. Pastikan ventilasi tertutup dan hindari aktivitas di luar ruangan sampai kondisi udara membaik.
5. Masker yang Harus Segera Diganti
Ketika masker sudah terasa basah, kotor, atau tersumbat abu, jangan dipakai terus-menerus. dr. Sukamto menegaskan pentingnya mengganti masker pada kondisi tersebut.
"Ganti masker bila sudah basah, kotor, atau tersumbat abu," tegasnya. Direktur Pelayanan Kesehatan Kelompok Rentan Kemenkes, Imran Pambudi, juga mengingatkan abu vulkanik mengandung partikel tajam dan asam yang sangat berbahaya bagi paru-paru.
Paparan abu vulkanik bukan sekadar gangguan pernapasan biasa. Partikel mikro yang terhirup bisa mengendap di alveolus dan memicu masalah kesehatan jangka panjang, termasuk risiko kanker paru jika terpapar berulang. Jaga kesehatanmu dan keluarga dengan perlindungan yang tepat.