SOFIFI — Gubernur Maluku Utara Sherly Laos menegaskan bahwa kemiskinan tidak bisa hanya dilihat sebagai persoalan angka statistik. Di balik data tersebut, terdapat keluarga yang membutuhkan intervensi nyata dari pemerintah agar taraf hidupnya meningkat.
“Kemiskinan bukan sekadar angka. Di baliknya ada keluarga yang harus kita bantu naik kelas,” ujar Sherly dalam pertemuan dengan Kepala BPS RI Amalia Adininggar Widyasanti, baru-baru ini.
Garis Kemiskinan Rumah Tangga di Maluku Utara Capai Rp 4 Juta
Sherly memaparkan, gambaran garis kemiskinan rumah tangga di Maluku Utara berada di kisaran Rp 4 juta per bulan untuk satu keluarga. Rata-rata jumlah anggota rumah tangga di provinsi ini sekitar lima hingga enam orang.
Kondisi tersebut, menurut dia, membuat pemadanan data keluarga miskin perlu dilakukan lebih detail dan sesuai ketentuan yang berlaku. Pendekatan ini dinilai penting untuk menjawab sejumlah pertanyaan mendasar.
“Siapa keluarganya, di mana, apa masalahnya, dan bantuan apa yang dibutuhkan,” katanya.
Data Kemiskinan Juga Jadi Acuan Atasi Pengangguran dan Stunting
Sherly menjelaskan, pendekatan berbasis data ini tidak hanya diterapkan untuk penanganan kemiskinan. Pemprov Maluku Utara juga akan mendorong pola serupa dalam menangani persoalan pengangguran dan stunting di wilayahnya.
Pemadanan data diharapkan mampu memberikan gambaran lebih jelas mengenai keluarga yang membutuhkan intervensi. Mulai dari lokasi tempat tinggal, persoalan yang dihadapi, hingga bentuk bantuan yang sesuai dengan kebutuhan masing-masing.
“Datanya tepat, intervensinya tepat, keluarga naik kelas,” tegas Sherly.
Target Akhir: Hidup Masyarakat yang Membaik, Bukan Sekadar Angka
Menurut Sherly, tujuan utama pemerintah bukan hanya mengejar perbaikan angka kemiskinan atau indikator pembangunan lainnya. Ia menekankan pentingnya perubahan nyata dalam kehidupan masyarakat.
“Karena tujuan akhirnya bukan sekadar angka membaik, tapi hidup masyarakat yang benar-benar membaik,” pungkasnya.