TERNATE — Gubernur Maluku Utara, Sherly Tjoanda Laos, meminta seluruh pemangku kepentingan di daerahnya segera berbenah dalam hal pelestarian pusaka. Menurutnya, dokumentasi fisik berupa foto saja tidak cukup. Setiap benda atau bangunan bersejarah perlu dilengkapi informasi detail mengenai bentuk fisik, sejarah, serta cerita yang melekat di dalamnya.
“Kita tidak pernah tahu bencana apa yang akan datang. Tetapi jika semua benda pusaka, sejarah, foto, dan ceritanya disimpan dalam bentuk digital, kita masih punya catatan yang bisa diwariskan kepada anak cucu,” kata Sherly di sela-sela acara.
Benteng di Ternate Tak Bermakna Tanpa Cerita
Sherly mencontohkan keberadaan benteng-benteng bersejarah di Ternate. Ia menilai, bangunan tersebut tidak akan memiliki makna utuh apabila generasi mendatang hanya melihat fisiknya tanpa mengetahui alasan di balik pembangunannya.
“Kalau 100 tahun lagi benteng-benteng itu masih ada, tetapi anak cucu kita tidak tahu ceritanya, mengapa benteng itu ada dan apa maknanya, apakah kita berhasil melestarikan pusaka?” ujarnya.
Oleh karena itu, dokumentasi digital yang tersimpan dalam sistem cloud menjadi kunci. Dengan begitu, informasi mengenai pusaka tetap tersedia meskipun bangunan atau benda aslinya mengalami kerusakan akibat bencana yang tidak bisa diprediksi.
Generasi Muda Jadi Pemeran Utama
Sherly menegaskan, tantangan pelestarian pusaka saat ini adalah bagaimana membuat generasi muda tertarik dan merasa memiliki hubungan dengan sejarah serta budaya daerah. Pusaka perlu dikembangkan secara kreatif agar relevan dengan perkembangan zaman.
“Bagaimana kita menciptakan nilai ekonomi tanpa merusak nilai sejarahnya,” tegas Sherly.
Ia menyebut potensi pusaka bisa dikembangkan melalui berbagai produk dan kegiatan, mulai dari kuliner, usaha mikro, ekonomi digital, hingga konten kreatif seperti komik dan kartun yang dipublikasikan melalui media sosial. Dengan cara ini, generasi muda tidak hanya menjadi penerima cerita sejarah, tetapi juga bisa menciptakan manfaat ekonomi dari kekayaan budaya daerah.
Konsep Living Heritage dan Peluang UNESCO
Dalam kesempatan itu, Sherly juga mendorong penerapan konsep living heritage dalam pengelolaan pusaka. Warisan budaya tidak boleh hanya dipandang sebagai peninggalan masa lalu, tetapi harus dimanfaatkan secara optimal untuk memberikan nilai bagi masyarakat saat ini maupun generasi mendatang.
“Living heritage adalah heritage yang bukan hanya berbicara tentang masa lalu, tetapi bagaimana sejarah dan masa lalu ini kita manfaatkan secara optimal sehingga bisa menghasilkan nilai ekonomi di masa sekarang dan di masa yang akan datang bagi generasi kita,” jelasnya.
Sherly membuka peluang agar pusaka yang memiliki nilai universal dapat didorong menuju pengakuan sebagai warisan dunia UNESCO. Pengakuan tersebut tidak hanya memperkuat aspek pelestarian, tetapi juga berpotensi membuka pasar yang lebih luas serta memberikan dampak ekonomi bagi masyarakat.
Dampak Ekonomi Rakernas JKPI ke Ternate
Di sisi lain, Sherly mengapresiasi pelaksanaan Rakernas XII JKPI di Ternate. Menurutnya, kegiatan tersebut ikut memberikan dampak positif terhadap aktivitas ekonomi masyarakat. Kota Ternate terlihat semakin ramai dalam beberapa pekan terakhir karena rangkaian kegiatan JKPI menghadirkan peserta dari berbagai daerah di Indonesia.
“Satu bulan terakhir yang saya tahu, Kota Ternate sangat ramai. Wali kota senyum terus karena perputaran ekonominya banyak,” ujar Sherly.
Ia berharap kegiatan berskala nasional seperti Rakernas JKPI dapat lebih sering dilaksanakan di Ternate agar manfaat ekonomi dapat dirasakan secara berkelanjutan oleh pelaku UMKM, ekonomi kreatif, pariwisata, dan masyarakat. “Pelestarian pusaka pada akhirnya bukan hanya tentang mempertahankan bangunan atau benda bersejarah, tetapi memastikan sejarah, nilai budaya, dan cerita di baliknya tetap hidup serta dapat diwariskan,” pungkasnya.