Pencarian

Review Vespa GTS 250: Mesin HPE 249 cc, Lebih Murah dari GTS 300 tapi Kuras Tenaga?

Selasa, 01 September 2026 • 21:52:01 WIB
Review Vespa GTS 250: Mesin HPE 249 cc, Lebih Murah dari GTS 300 tapi Kuras Tenaga?
Vespa GTS 250 melintasi rute Ampera–Megamendung untuk uji performa mesin HPE 249 cc di wilayah pegunungan.

MALUKU UTARA — PT Piaggio Indonesia memilih rute Ampera–Megamendung sejauh itu untuk memperkenalkan Vespa GTS 250 kepada awak media pada Selasa-Rabu (1-2/9/2026). Rutenya dirancang melewati macetnya kemacetan Ibu Kota, jalan tol, lalu berlanjut ke kelokan dan tanjakan Sentul hingga Amba Hills. Kombinasi ini sengaja dipilih agar karakter mesin baru langsung teruji.

Ini bukan sekadar acara ceremonial. Saya menyempatkan diri mencatat setiap respons mesin saat berpapasan dengan truk di jalur menanjak, juga perilaku skuter saat harus berhenti-maju di kepadatan Puncak. Karena produk ini memegang posisi strategis di lini Vespa—pengganti dua model populer sekaligus—catatan di bawah adalah kesan awal yang harus diverifikasi lewat pengujian lebih panjang.

GTS 250: Satu Mesin untuk Dua Posisi yang Berbeda

Kehadiran GTS 250 menutup dua generasi yang punya fanbase masing-masing. GTS 150 selama ini jadi pintu masuk bagi yang ingin Vespa modern tanpa merogoh kocek terlalu dalam. GTS 300, di sisi lain, punya tenaga paling besar di lini skuter Vespa. Kini keduanya dipensiunkan, digantikan satu varian bermesin 249 cc.

Secara desain, nyaris tidak ada yang berubah dari keluarga GTS. Body membulat khas skuter Italia, detail krom di beberapa titik, dan posisi berkendara yang tegak tetap dipertahankan. Perbedaan paling kentara justru ada di balik cover samping. Mesin HPE (High Performance Engine) 249 cc berpendingin cairan ini memakai bore 75 mm dan stroke 56,4 mm—rasio yang biasa ditemui di motor sport, membuatnya lebih responsif saat putaran atas.

PR & Communications Manager PT Piaggio Indonesia, Ayu Hapsari, menegaskan bahwa rute pegunungan dipilih bukan tanpa alasan. "Rutenya sengaja dipilih ke wilayah pegunungan agar sensasi berkendara dan performanya dapat terasa lebih optimal," ujarnya saat briefing sebelum keberangkatan.

Tenaga 22,1 hp di Tanjakan: Cukup atau Kurang?

Di atas kertas, tenaga maksimal 22,1 hp di 7.750 rpm dan torsi 22,1 Nm di 6.000 rpm membuat GTS 250 berada di antara kedua pendahulunya. Saat melewati tanjakan Sentul dengan kecepatan 60-70 km/jam, mesin masih punya cadangan tenaga untuk menyalip kendaraan lambat tanpa perlu menurunkan gigi—soalnya transmisi CVT bekerja halus.

Tapi ada satu hal yang langsung terasa: karakter mesin ini lebih suka diputar di RPM menengah ke atas. Di putaran bawah, respons gas terasa sedikit datar. Ini wajar untuk mesin oversquare, tapi butuh adaptasi bagi pengguna GTS 300 yang terbiasa dengan torsi besar dari putaran rendah. Untuk pengguna GTS 150, peningkatan ini akan terasa signifikan—tarikan dari tanjakan jauh lebih percaya diri.

Suspensi depan dan belakang masih memakai setelan standar Vespa yang nyaman untuk harian. Guncangan di jalan rusak sekitar Cibubur masih bisa ditoleransi, meski untuk pace tinggi di jalan berkelok, sedikit limbung adalah hal yang wajar—bukan kompetitor, ini skuter premium dengan prioritas kenyamanan.

Panel TFT 5 Inci dan Keyless: Fitur Modern yang Berhasil Dirakit Rapi

Saat pertama kali menyalakan mesin, layar TFT 5 inci langsung menyala dengan tampilan yang bersih dan mudah dibaca di bawah sinar matahari. Navigasi dari smartphone melalui konektivitas Vespa MIA tampil langsung di layar—cukup membantu saat rombongan touring di jalur yang asing. Notifikasi telepon dan kontrol musik juga tersedia, meski saya belum sempat menguji seberapa responsif saat dipakai menerima panggilan dalam kecepatan tinggi.

Sistem keyless bekerja presisi. Cukup mendekat, tekan tombol start, dan mesin langsung hidup. Tidak ada drama "sensor tidak terdeteksi" yang sering ditemui di skuter lain. Area penyimpanan di bawah jok muat satu helm half-face dan sarung tangan, standar di kelas ini.

Yang Perlu Diperhatikan Sebelum Transfer Uang

Setiap produk punya kompromi. GTS 250 hadir dengan beberapa catatan yang perlu dipikirkan matang sebelum memutuskan membeli:

- Harga Rp97 juta OTR Jakarta menempatkannya di kelas yang sama dengan skuter maxi premium dari kompetitor. Ini bukan keputusan impulsif. - Efisiensi bahan bakar belum bisa diukur akurat dari perjalanan singkat. Klaim pabrikan biasanya lebih rendah dari kondisi nyata—perlu pengujian berkala untuk angka sebenarnya. - Posisi duduk tetap tinggi dan lebar. Pengendara dengan tinggi di bawah 165 cm mungkin perlu adaptasi saat berhenti di tanjakan macet. - Tampilan dan fitur sangat mirip GTS 300. Secara visual, tetangga akan kesulitan membedakan; nilai prestise "GTS 300" yang selama ini identik dengan kelas atas mungkin agak pudar.

Kesimpulan Awal: Bukan Sekadar Pengganti, Tapi Pilihan Lebih Masuk Akal

Vespa GTS 250, setidaknya dari kesan pertama ini, berhasil menjadi jembatan cerdas. Ia menawarkan tenaga yang cukup untuk pengguna harian yang sering keluar kota, fitur modern yang berfungsi baik, dan harga yang lebih masuk akal daripada GTS 300. Tapi, mesin yang lebih suka di putaran atas dan harga yang masih premium membuatnya tidak untuk semua orang.

Pengguna yang mencari skuter untuk sekadar gaya di perkotaan mungkin tetap cocok dengan varian lebih kecil. Sementara yang butuh tenaga ekstra untuk touring jauh, GTS 250 ini baru terasa adil setelah saya menghabiskan waktu lebih lama—terutama untuk mengukur konsumsi bensin dan kenyamanan suspensi di perjalanan panjang. Laporan lanjutan akan menyusul.

Pertanyaan Seputar Berita Ini

Fitur modern?
pa saja yang ada di Vespa GTS 250? A: Vespa GTS 250 dilengkapi panel TFT 5 inci dan sistem keyless.

Follow lensaternate.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: otorider.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks