MALUKU UTARA — Dewan Penanggulangan dan Mitigasi Risiko Bencana Nasional (NDRRMC) mengonfirmasi pada Jumat (12/6) bahwa gempa yang berpusat di lepas pantai selatan Mindanao ini menjadi bencana seismik paling mematikan di Filipina dalam beberapa tahun terakhir.
Skala Dampak: Lebih dari 86.000 Keluarga Terdampak
Guncangan pada Senin (8/6) pagi itu tidak hanya menelan korban jiwa. NDRRMC melaporkan bencana tersebut berdampak pada lebih dari 86.000 keluarga, yang jika diakumulasi melibatkan lebih dari 390.000 jiwa.
Kerusakan infrastruktur tercatat masif. Sekitar 19.000 unit rumah dilaporkan rusak. Pasokan listrik di 48 kota dan munisipalitas di Pulau Mindanao lumpuh total. Jalan raya, jembatan, bandara, dan fasilitas pelabuhan juga mengalami kerusakan parah, menghambat proses evakuasi dan distribusi bantuan.
Bandara Dialihfungsikan untuk Bantuan, Tim SAR Dikerahkan
Bandara Internasional General Santos, salah satu gerbang udara utama di kawasan selatan, masih ditutup untuk penerbangan komersial. Bandara tersebut hanya mengakomodasi penerbangan militer dan pesawat kemanusiaan yang membawa logistik.
NDRRMC telah mengerahkan lebih dari 3.700 personel untuk mempercepat pencarian korban hilang. Operasi SAR difokuskan di area terdampak paling parah, terutama distrik-distrik pesisir yang sulit dijangkau akibat kerusakan jalan.
Pusat Gempa di Sarangani, Lebih dari 3.800 Gempa Susulan Tercatat
Menurut Institut Vulkanologi dan Seismologi Filipina (PHIVOLCS), gempa tektonik ini terjadi pada pukul 07.37 waktu setempat dengan kedalaman dangkal 33 kilometer. Pusat gempa berada sekitar 32 kilometer barat daya pesisir Maasim, Provinsi Sarangani.
PHIVOLCS mencatat aktivitas seismik yang luar biasa setelah guncangan utama. Hingga Jumat, lebih dari 3.860 gempa susulan telah terekam. Intensitas gempa susulan yang tinggi ini memicu kepanikan di kalangan pengungsi yang masih bertahan di tenda-tenda darurat.
Lokasi di Cincin Api Pasifik Jadi Faktor Kerentanan
Filipina secara geografis berada di kawasan rawan gempa. Negara ini terletak di sepanjang "Cincin Api" Pasifik, zona batas lempeng tektonik utama yang aktif secara seismik dan vulkanik. Kondisi inilah yang menyebabkan negara tersebut kerap dilanda gempa bumi dan letusan gunung berapi.
Pemerintah Filipina melalui NDRRMC masih melakukan pendataan lanjutan. Jumlah korban jiwa dan kerugian material diprediksi masih akan bertambah seiring laporan yang masuk dari daerah-daerah terisolasi.