MALUKU UTARA — Langkah korporasi ini diumumkan melalui akun Instagram resmi @bp_idn, menyusul penyesuaian harga yang dilakukan kompetitor utama, Pertamina, beberapa hari sebelumnya. BP memilih untuk menahan harga solar sambil menggerus harga bensin, sebuah strategi yang tampaknya disiapkan untuk menarik lebih banyak pelanggan kendaraan pribadi di segmen perkotaan.
“Bahan bakar di SPBU BP diformulasikan dengan teknologi ACTIVE untuk membantu menjaga mesin tetap bersih sehingga performa kendaraan tetap optimal,” tulis manajemen BP dalam keterangan resminya. Teknologi ini menjadi nilai jual utama perusahaan untuk membedakan produknya dari merek lain di tengah perang harga yang kian tipis.
Rincian Harga Baru: Bensin Turun, Solar Naik Tipis
Penyesuaian harga berlaku serentak di seluruh jaringan SPBU BP di Indonesia. Produk bensin andalan mereka, BP 92, kini dibanderol Rp 16.130 per liter, turun dari posisi sebelumnya Rp 16.670 per liter. Artinya, konsumen menghemat Rp 540 untuk setiap liternya.
Sementara itu, varian bensin beroktan lebih tinggi, BP Ultimate, juga mengalami penurunan dari Rp 17.240 per liter menjadi Rp 16.760 per liter. Selisih harga antar kedua produk bensin ini kini hanya Rp 630, membuat konsumen lebih tergoda untuk langsung memilih varian tertinggi.
Berbeda dengan produk bensin, harga solar justru bergerak naik. BP Ultimate Diesel kini dijual Rp 21.910 per liter, naik Rp 570 dari harga sebelumnya yang berada di level Rp 21.340 per liter. Kenaikan ini menempatkan harga solar BP di atas rata-rata harga solar nonsubsidi kompetitor di pasar.
Dampak ke Konsumen dan Peta Persaingan SPBU
Dengan penurunan ini, selisih harga BP 92 terhadap Pertamax milik Pertamina—yang juga baru saja mengalami penyesuaian—kini semakin sempit. Bagi pengendara yang selama ini setia pada satu merek, momen ini menjadi waktu yang tepat untuk membandingkan kualitas dan harga. Keputusan BP menurunkan harga bensin namun menaikkan solar menunjukkan adanya segmentasi pasar yang jelas: mereka agresif merebut pangsa pasar kendaraan bensin perkotaan, sambil tetap menjaga margin dari segmen diesel yang biasanya digunakan untuk operasional logistik.
Langkah ini juga menjadi sinyal bahwa persaingan di pasar BBM nonsubsidi tidak lagi didominasi oleh pemain tunggal. Konsumen kini memiliki daya tawar lebih besar, dan loyalitas merek hanya akan bertahan jika harga serta kualitas produk tetap kompetitif.
Kebijakan harga baru ini akan terus dipantau oleh pelaku industri, mengingat fluktuasi harga minyak mentah global masih menjadi variabel utama yang menentukan arah harga BBM di dalam negeri dalam beberapa pekan ke depan.