MALUKU UTARA — Dua pengemudi ojek online membagi pengalaman memakai Polytron Fox-R untuk mencari nafkah harian. Bagi Rudy dan Farhen, motor listrik ini memangkas biaya energi hingga tinggal sekitar Rp 5.300 per pengisian penuh, jauh lebih murah ketimbang mengisi Pertalite. Namun waktu pengisian baterai yang mencapai empat jam dan biaya sewa baterai Rp 200 ribu per bulan menjadi hitungan tersendiri.
Polytron Fox-R bukan motor baru di pasar Indonesia. Model ini mulai dipasarkan pada 2023 dengan harga OTR Jabodetabek sekitar Rp 20,5 juta, lalu turun menjadi sekitar Rp 13,5 juta setelah mendapat subsidi pemerintah Rp 7 juta. Dua pengemudi ojol yang ditemui detikOto memakai motor ini untuk aktivitas harian, dengan alasan yang berbeda satu sama lain.
Spesifikasi Fox-R dan Ukuran Nyata di Jalanan
Fox-R dibekali motor listrik 3.000 watt dan baterai berkapasitas sekitar 3,7 kWh. Polytron mengklaim jarak tempuh hingga 130 kilometer dengan kecepatan maksimal sekitar 95 km/jam, sementara pengisian dari kosong hingga penuh butuh sekitar lima jam.
Edward Rudy Suryono, 59 tahun, punya patokan sendiri. Begitu jarak tempuh menyentuh 100 kilometer, ia memilih pulang untuk mengisi daya. Ia tidak mau mengambil risiko kehabisan baterai di tengah jalan.
"Ngecas full butuh empat jam," ujarnya.
Hitung-hitungan Biaya Energi versus Motor Bensin
Di sektor biaya energi, motor listrik menawarkan angka yang sulit disaingi motor bensin. Dengan baterai 3,7 kWh dan tarif listrik rumah tangga sekitar Rp 1.445 per kWh, satu kali pengisian penuh secara teoritis hanya membutuhkan sekitar Rp 5.300.
Jika energi yang sama diisi lewat SPKLU dengan tarif sekitar Rp 2.500 per kWh, biayanya naik menjadi sekitar Rp 9.250. Selisih tarif sekitar Rp 1.000 per kWh itu setara tambahan Rp 4.000 untuk sekali pengisian penuh baterai Fox-R.
Bagi Rudy, angka itu yang membuat Fox-R terasa lebih efisien dibanding dua motor bensin yang masih tersimpan di rumahnya, Vario dan Scoopy. "Di rumah sebenarnya ada Vario dan Scoopy. Tapi untuk ngojol, hitungannya ini lebih efisien," katanya.
Skema Sewa Baterai Rp 200 Ribu per Bulan
Rudy dan Farhen Perdiansyah sama-sama memilih skema sewa baterai sekitar Rp 200 ribu per bulan. Bagi Rudy, skema itu memberi ketenangan kalau baterai bermasalah.
"Kalau baterai rusak atau soak kan tinggal minta ganti ke dealer," ujarnya.
Farhen punya alasan lain memilih Fox-R. Pengemudi ojol sejak 2017 itu menilai ruang antara kemudi dan jok cukup lega untuk mengangkut barang.
"Jangankan air mineral kemasan galon, koper pun masih muat. Makanya saya pilih yang ini. Kapasitasnya lumayan besar buat bawa barang," ujarnya.
Keluar Rumah Tanpa Modal Bensin
Farhen mengganti motor bensinnya dengan motor listrik sejak tahun lalu. Pekerjaan utamanya sebagai teknisi di salah satu vendor Telkomsel berakhir setelah pandemi membuat tempat kerjanya tumbang.
"Beberapa bulan setelah Covid, vendor tempat saya kerja oleng, ambruk. Saya sama teman-teman dirumahin. Untung saya sudah biasa ngojol. Eh, keterusan sampai sekarang," tuturnya.
Dengan ijazah SMA, Farhen mengaku tidak selalu mudah melamar pekerjaan baru. Persyaratan administrasi dan faktor usia kerap jadi ganjalan. Jalanan pun menjadi tempatnya mencari nafkah.
Keuntungan paling terasa baginya muncul sebelum berangkat kerja. "Dengan pakai ini saya keluar rumah tongpes, nol rupiah, juga pede," ujarnya.
"Kalau waktu masih pakai motor biasa, minimal ngantongin Rp 20 ribu dulu buat Pertalite," imbuhnya.
Reverse dan Cruise Control Jadi Nilai Tambah
Di luar urusan biaya, Rudy menyoroti fitur Fox-R. Ia memperagakan tombol reverse sambil tetap duduk di atas jok, membuat motor bergerak perlahan ke belakang. Saat melaju, tangannya dilepas dari tuas gas dan motor tetap berjalan konstan. "Saya setel 25 kilometer per jam," ujarnya. Cruise control rupanya sudah diaktifkan.
Keluhan Suspensi Setelah Enam Bulan
Fox-R juga punya sisi yang dikeluhkan. Setelah sekitar enam bulan digunakan, Rudy menilai kenyamanan suspensinya mulai berkurang. Waktu pengisian baterai yang berjam-jam harus masuk dalam perhitungan kerja harian.
Dua pengalaman itu menunjukkan alasan berbeda ketika pengemudi ojol beralih ke motor listrik. Rudy menekankan efisiensi dan biaya operasional, sementara Farhen melihat kepraktisan membawa barang sekaligus penghematan uang bensin sebelum mulai bekerja.