Pencarian

Harga Minyak Dunia Melonjak, Pertamina Terjepit: Opsi Naikkan Pertamax Kian Tak Terhindarkan

Rabu, 10 Juni 2026 • 20:08:01 WIB
Harga Minyak Dunia Melonjak, Pertamina Terjepit: Opsi Naikkan Pertamax Kian Tak Terhindarkan
Harga minyak dunia yang melonjak membuat biaya produksi Pertamax membengkak signifikan.

MALUKU UTARA — Tekanan finansial terhadap Pertamina semakin nyata. Di tengah harga minyak mentah yang terus merangkak naik dan rupiah yang tak kunjung perkasa, biaya impor minyak untuk memproduksi Pertamax membengkak signifikan. Jika tidak segera direspons, celah kerugian (negative spread) antara harga jual dan biaya produksi bakal melebar, menggerus laba perusahaan pelat merah ini.

Mengapa Harga Pertamax Harus Naik Sekarang?

Hadi Ismoyo menjelaskan, formula harga BBM nonsubsidi seperti Pertamax sangat sensitif terhadap dua variabel utama: harga minyak mentah acuan (ICP) dan kurs dolar AS terhadap rupiah. "Ketika keduanya bergerak simultan ke arah yang merugikan, Pertamina tidak punya bantalan," ujarnya.

Dalam tiga bulan terakhir, harga minyak mentah dunia bertengger di kisaran 85-90 dolar AS per barel, sementara rupiah sempat menyentuh level Rp 16.500 per dolar AS. Akumulasi dari kedua faktor ini membuat biaya pokok produksi (BPP) Pertamax jauh di atas harga jual saat ini yang masih Rp 12.900 per liter.

Beban di Pundak Konsumen

Kenaikan harga Pertamax jelas bukan kabar baik bagi pengguna kendaraan pribadi di perkotaan. Selama ini, Pertamax menjadi pilihan utama pemilik mobil-mobil baru dan sepeda motor premium yang membutuhkan pembakaran lebih bersih. Jika harga naik, mereka terpaksa mengalihkan penggunaan ke Pertalite yang lebih murah, atau mengurangi frekuensi perjalanan.

Pertamina sendiri belum mengumumkan besaran kenaikan maupun jadwal resmi penerapannya. Namun, sinyal dari pernyataan para pengamat dan tekanan pasar membuat publik mulai bersiap. Yang menjadi pertanyaan sekarang: seberapa besar dan kapan tepatnya?

Keputusan final ada di tangan direksi Pertamina, dengan pengawasan dari Kementerian BUMN dan Kementerian ESDM. Regulator harus menyeimbangkan antara menjaga daya beli masyarakat dan menjaga kesehatan fundamental bisnis Pertamina. Jika terlalu lama menahan harga, justru negara yang harus menggelontorkan subsidi tambahan — sebuah beban baru bagi APBN di tengah target defisit yang ketat.

Bagikan
Sumber: ekonomi.republika.co.id

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks