HALMAHERA BARAT — Fasilitator Kabupaten Tekad Halmahera Barat, Anton Ilyas, menyebut pelatihan teknis tersebut ditargetkan bagi kelompok yang diusulkan oleh desa. Alasannya, olahan produk turunan ikan cakalang di kawasan itu selama ini masih sangat terbatas.
Pelatihan berlangsung tiga hari di masing-masing desa dengan pemateri dari kalangan praktisi dan pelaku usaha. Selain pentolan, peserta juga diajari membuat abon ikan cakalang.
Pelatih Profesional hingga Antusiasme Warga Saria
Anton menjelaskan pihaknya menghadirkan pelatih dari tenaga profesional untuk mendampingi peserta. Menurut dia, Desa Saria dikenal sebagai salah satu wilayah penghasil ikan melimpah di Halbar, termasuk tuna dan cakalang.
"Selain melakukan pelatihan teknis pentolan ikan cakalang kami juga melakukan pembuatan abon ikan cakalang desa Saria, dan pelatihan tersebut dapat menghadirkan pelatih dari tenaga profesional yakni ibu Nurjana," ujar Anton.
Dia berharap pemerintah desa dan kelompok masyarakat dapat meningkatkan kapasitas produksi olahan ikan. Pasokan bahan baku dinilai masih bisa diperbesar mengingat potensi perikanan Desa Saria.
"Income dari pelatihan ini kami sangat berharap kepada pemerintah desa maupun kelompok, sebagai bahan baku dasar dari jumlah pentolan maupun abon ikan lebih besar dan lebih banyak lagi, karena Desa Saria ini dikenal sebagai sala satu desa penghasil ikan terbanyak di Halbar, baik ikan tuna, ikan cakalang dan jenis ikan lainnya," tukasnya.
Tekad 2026 Menyasar 10 Desa di Halmahera Barat
Pada 2026, program Tekad menyasar kurang lebih 10 desa di Halmahera Barat. Sebaran lokasinya meliputi Kecamatan Jailolo (termasuk Desa Saria), satu desa di Kecamatan Ibu Selatan, dua desa di Kecamatan Ibu, serta dua desa di Kecamatan Ibu Utara.
Jenis kegiatan disesuaikan dengan kebutuhan desa dan demplot yang diusulkan. Anton mengapresiasi antusiasme masyarakat Desa Saria yang dinilainya melebihi ekspektasi.
"Artinya semua masyarakat dapat berbondong-bondong datang untuk ingin belajar yang di mana dulu orang hanya mengenal dan mengetahui ikan hanya dijual begitu saja, namun ada produk turunan dari ikan itu dibuat pentolan ikan dan abon sehingga mereka ingin belajar untuk mengembangkan usaha itu," katanya.
Dia berharap usaha olahan ikan ini dapat menjadi sumber Pendapatan Asli Desa (PADes). Dukungan berkelanjutan dari pemerintah daerah, provinsi, hingga pusat dinilai penting agar produk warga bisa menembus pasar lokal berstandar maupun pasar nasional.
"Tentu jika ini masuk di pasar nasional maupun pasar lokal yang berstandar sesuai dengan standar pasarnya ya sudah tentu pasti dapat membantu pendapatan ekonomi desa dan masyarakat di Desa Saria," tambahnya.
Kades Saria Minta Pendampingan Kelompok Usaha Berjalan Rutin
Kepala Desa Saria yang juga pengurus APDESI Halmahera Barat, Atman Hasan, mengapresiasi program Tekad. Menurut dia, kegiatan ini membantu para pengrajin dan mendorong diversifikasi usaha masyarakat.
"Harapan kami selaku pemerintah Desa saria kepada kelompok tersebut agar dapat lebih fokus dan bisa mendapat pemahaman yang mendalam terkait pengembangan usaha tersebut," harap Atman.
Ia meminta pengelola program mengawal perkembangan kelompok usaha di desanya secara berkala. Pendampingan diminta tidak berhenti di pelatihan saja.
"Kepada seluruh koordinator program Tekad, agar selalu melakukan monitoring pelaksanaan program ini agar para kelompok usaha selalu mendapatkan pemasukan pemahaman yang berkelanjutan," tutupnya.