MALUKU UTARA — Wakil Ketua Komisi V DPR RI, Roberth Rouw, memimpin langsung rombongan yang terdiri dari anggota dewan, perwakilan Kementerian Perhubungan, serta jajaran pemerintah daerah. Mereka tidak sekadar turun melihat aktivitas bongkar muat, tetapi mendalami laporan teknis yang disusun oleh Direktorat Jenderal Perhubungan Laut.
Dalam paparan yang diterima rombongan, terungkap bahwa Pelabuhan Cirebon menghadapi tiga tantangan utama: sedimentasi yang menggerus kedalaman alur pelayaran, ruang pengembangan yang sempit, serta dominasi komoditas yang belum terdiversifikasi. "Ini masalah serius. Kalau alurnya dangkal, kapal besar tidak bisa sandar, dampaknya ke biaya logistik," ujar Roberth Rouw dalam keterangannya, Selasa (12/11).
Digitalisasi Berjalan, Tapi Belum Cukup
Meski digelayuti masalah infrastruktur, Pelindo Regional 2 Cirebon sebenarnya sudah mengadopsi sejumlah teknologi. Manajemen Pelindo memperkenalkan sistem Inaportnet, Single Truck Identification Data (STID), hingga Auto Gate System untuk mempercepat proses administrasi dan lalu lintas truk di pintu masuk pelabuhan.
“Kami juga punya SIMON TKBM untuk memonitor tenaga kerja bongkar muat secara real-time,” ungkap General Manager Pelindo Regional 2 Cirebon, Darwis. Namun, ia mengakui bahwa efisiensi digital ini belum optimal jika masalah mendasar seperti pendangkalan kolam pelabuhan tidak segera ditangani.
Kolaborasi Jadi Kunci, DPR Siap Dorong Anggaran
Direktur Kepelabuhanan Kementerian Perhubungan, Muhammad Anto Julianto, menegaskan bahwa pengembangan Pelabuhan Cirebon tidak bisa dilakukan sendiri oleh Pelindo. Butuh sinergi dengan pemerintah pusat, pemda, dan operator. “Kami pastikan pengembangan ini berjalan terukur dan berkelanjutan,” katanya.
Menanggapi hal itu, Roberth Rouw berjanji akan membawa temuan di lapangan ke meja rapat Komisi V. “Kami akan kaji bersama mitra kerja. Ini menyangkut kepentingan ekonomi masyarakat Cirebon dan sekitarnya,” tegasnya.
Darwis berharap kunjungan ini menjadi momentum untuk mempercepat realisasi proyek infrastruktur yang selama ini mandek. “Kami siap bersinergi. Pelabuhan ini harus menjadi simpul logistik yang efisien, adaptif, dan berkelanjutan,” pungkasnya.
Dengan posisi strategisnya di pantai utara Jawa, Pelabuhan Cirebon sejatinya bisa menjadi alternatif untuk mengurangi beban Tanjung Priok. Namun, tanpa penanganan serius terhadap sedimentasi dan perluasan lahan, potensi itu akan terus tersandera.