MALUKU UTARA — Rencana penutupan dan likuidasi anak usaha BUMN sempat memicu kekhawatiran akan gelombang PHK. Namun, Dony Oskaria yang juga menjabat Kepala Badan Pengelola BUMN (BP BUMN) membantah hal tersebut. Ia menegaskan tidak ada satu pun pegawai yang dirumahkan akibat kebijakan ini.
"Karyawannya ikut, kan banyaknya merger. Jadi banyak karyawan kita yang tidak ganti, tidak kita kurangin," ujar Dony di kompleks parlemen, Senin (8/4).
Telkom Pangkas 14 Anak Usaha, Karyawan Tetap Dipekerjakan
Salah satu BUMN yang paling agresif melakukan pemangkasan adalah PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk. Dony mengungkapkan, dari 67 anak usaha, Telkom menyisakan 19 perusahaan. Sebanyak 12 hingga 14 entitas di antaranya dilikuidasi atau ditutup.
"Kemarin kan waktu mereka presentasi kalau enggak salah dari 67 perusahaan menjadi 19, (yang dilikuidasi) saya lupa 12 atau 14 nanti cek," ungkap Dony.
Meski begitu, Dony memastikan seluruh karyawan dari anak usaha yang ditutup akan dikonsolidasikan ke perusahaan lain yang masih beroperasi. Contohnya, di sektor fiber optik, beberapa perusahaan akan digabung menjadi satu entitas yang lebih besar.
Rencana Pemangkasan di BUMN Lain: PLN, Pupuk, hingga Pelindo
Selain Telkom, BP BUMN sebelumnya telah mengumumkan target pemangkasan anak usaha di sejumlah BUMN besar. PT PLN (Persero) ditargetkan memiliki 23 anak usaha, PT Pupuk Indonesia menjadi 17, PT Pelindo (Persero) menjadi 24, PTPN menjadi 18, dan PT Semen Indonesia (Persero) Tbk dipangkas menjadi 12 anak usaha.
Langkah ini merupakan bagian dari transformasi besar-besaran BUMN yang dikoordinasi oleh Danantara. Tujuannya, menciptakan struktur holding yang lebih ramping dan efisien, sehingga nilai perusahaan meningkat.
Target Holding Asuransi dan BUMN Karya Mundur ke 2026
Dony juga membeberkan jadwal pembentukan holding baru. Holding investasi alias PT Mandiri Manajemen Investasi (MMI) ditargetkan rampung pada bulan ini. Sementara itu, holding kawasan industri akan dipisahkan dari Holding Danareksa.
Namun, untuk holding asuransi dan holding BUMN karya, target penyelesaian mundur hingga kuartal IV tahun 2026. Penyebabnya, proses rekonsiliasi keuangan di kedua sektor tersebut masih berlangsung.
"Kalau misalnya mereka (asuransi) di kuartal IV, yang agak tertunda juga itu di karya, awalnya kan Juni, yang kemungkinan nanti akan digeser menjadi kuartal IV, karena memang masih banyak restrukturisasi yang harus diselesaikan," tutup Dony.