TERNATE — Wali Kota Ternate H. M. Tauhid Soleman menilai pembangunan pendidikan yang utuh membutuhkan pembagian peran yang jelas antara rumah, sekolah atau pesantren, dan masjid. Pembagian itu, menurutnya, menjadi kunci agar pembentukan karakter anak berjalan sejak dari lingkungan terdekat.
Rumah berfungsi sebagai fondasi penanaman kasih sayang, keteladanan, adab, disiplin, dan kebiasaan baik. Sekolah dan pesantren mengembangkan ilmu pengetahuan, nalar kritis, keterampilan, akhlak mulia, kemandirian, serta tanggung jawab.
Adapun masjid dan masyarakat menjadi ruang penguatan spiritual, persaudaraan, kepedulian sosial, literasi agama, dan pelayanan umat. Ketiga lingkungan itu disebut Tauhid saling melengkapi, bukan saling menggantikan.
Empat Prinsip Mengintegrasikan Tiga Lingkungan Pendidikan
Tauhid merumuskan empat prinsip yang perlu dipegang saat mengintegrasikan rumah, sekolah, dan masjid. Pertama, menyampaikan pesan yang sama melalui keteladanan. Kedua, mengutamakan kolaborasi daripada saling menyalahkan.
Prinsip ketiga, menyediakan ruang yang aman dan inklusif bagi anak. Keempat, menjaga keseimbangan antara ilmu pengetahuan, teknologi, agama, dan budaya.
Ia juga mengingatkan kearifan lokal tidak cukup ditampilkan sebagai simbol atau lewat pakaian adat. Nilai-nilai itu harus diwujudkan dalam perilaku sehari-hari warga.
Nilai Adat Se Atorang hingga Sejarah Rempah Masuk Pembelajaran
Di Kota Ternate dan Maluku Utara, sejumlah nilai dinilai relevan diintegrasikan ke proses pembelajaran generasi muda. Mulai dari adat se atorang, penghormatan kepada orang tua dan guru, musyawarah, gotong royong, identitas maritim, hingga sejarah rempah.
Penerapannya dapat dilakukan lewat pengalaman konkret, pelibatan tokoh adat, ulama, dan sejarawan, serta pemanfaatan sumber pengetahuan lokal yang tumbuh di tengah masyarakat.
Menurut Tauhid, pendekatan itu membuat nilai budaya tidak berhenti sebagai hafalan, tetapi menjadi bagian dari cara anak bersikap.
Hadapi Distraksi Digital dan Hoaks dengan Budaya Tabayun
Di tengah era digital, Tauhid menilai santri dan generasi muda perlu memiliki kedalaman ilmu dan akhlak sekaligus mampu beradaptasi dengan kemajuan teknologi. Dua hal itu tidak boleh dipertentangkan.
Sejumlah tantangan yang ia soroti mencakup distraksi digital, penyebaran hoaks, perundungan, dan kesenjangan antargenerasi. Semua itu perlu dihadapi melalui penguatan budaya tabayun, literasi digital, serta penyediaan mekanisme perlindungan anak yang aman.
Rencana Aksi 90 Hari agar Gagasan Tidak Berhenti Seremonial
Agar gagasan tersebut tidak berhenti sebagai wacana seremonial, Tauhid mendorong penyusunan rencana aksi selama 90 hari. Penyusunannya melibatkan pemerintah, orang tua, pendidik, dan pengurus masjid.
Rencana itu dimulai dengan pemetaan kebutuhan anak dan potensi lokal pada 15 hari pertama. Tahapan selanjutnya mencakup pelaksanaan program rutin, pengembangan proyek berbasis kearifan lokal, evaluasi berkala, hingga memastikan keberlanjutan program di setiap kelurahan dan lingkungan pendidikan.
Tauhid menegaskan sinergi tiga lingkungan pendidikan bertujuan melahirkan generasi yang menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi tanpa kehilangan akhlak, kepedulian sosial, serta identitas budaya.
"Rumah menanamkan nilai, sekolah menumbuhkan ilmu, masjid menghidupkan iman dan kepedulian. Ketika ketiganya bersinergi dengan kearifan lokal, kita sedang menyiapkan generasi yang berakar kuat dan mampu melangkah jauh," ujarnya.