TERNATE — Workshop yang digelar di Aula Lantai II SMP Negeri 2 Ternate itu diikuti jajaran Dinas Pendidikan Kota Ternate, pengurus PGRI, narasumber, serta peserta dari kalangan pendidik. Kepala Dinas Pendidikan Kota Ternate Ridwan Ali dan Sekretaris Dinas Pendidikan Gazali turut hadir mendampingi pembukaan kegiatan.
Rizal menyampaikan apresiasi kepada narasumber, panitia, dan peserta yang dinilai terus berkomitmen meningkatkan kompetensi serta profesionalisme sebagai pendidik. Menurutnya, dunia pendidikan kini menghadapi tantangan yang semakin kompleks seiring perkembangan teknologi yang mengubah cara belajar dan mengajar.
Teknologi Hanya Alat, Guru Penggerak Utama
Dalam sambutannya, Rizal menegaskan posisi guru tidak tergantikan oleh perangkat digital apa pun. Teknologi disebutnya berfungsi memperkuat proses pembelajaran, bukan sekadar diikuti karena tren.
"Teknologi hanyalah alat, guru adalah penggerak utama. Teknologi harus memperkuat pembelajaran, bukan sekadar ikut tren," tegas Rizal.
Ia mendorong para guru memanfaatkan video pembelajaran, kuis interaktif, permainan edukatif, serta platform digital yang sesuai kebutuhan peserta didik. Pemanfaatan itu diharapkan menciptakan pengalaman belajar yang lebih interaktif dan bermakna, bukan sekadar memindahkan proses pembelajaran ke media digital.
Literasi dan Numerasi sebagai Fondasi Berpikir Kritis
Ketua PGRI Ternate ini menjelaskan literasi dan numerasi merupakan fondasi penting dalam peningkatan kualitas pendidikan. Literasi tidak hanya berkaitan dengan kemampuan membaca, tetapi juga memahami dan menggunakan informasi secara kritis.
Numerasi, lanjutnya, bukan sekadar kemampuan berhitung, melainkan kecakapan menerapkan konsep matematika untuk menyelesaikan persoalan sehari-hari. Penguatan keduanya perlu diterapkan menyeluruh di berbagai mata pelajaran agar siswa mampu berpikir kritis dan menghadapi tantangan kehidupan.
Waspadai Kesenjangan Baru dari Digitalisasi
Rizal mengingatkan transformasi digital harus berjalan seiring upaya mewujudkan pendidikan inklusif. Pemanfaatan teknologi, katanya, jangan sampai menciptakan kesenjangan baru yang membatasi akses siswa terhadap pendidikan berkualitas.
"Setiap anak di Ternate berhak belajar, berkembang, dan meraih masa depan," ujarnya.
Ia menilai PGRI sebagai organisasi profesi memiliki peran penting dalam membangun kolaborasi dan meningkatkan kompetensi guru. Melalui kegiatan pengembangan kapasitas seperti workshop, para pendidik diharapkan memperkuat kemampuan profesional dan menerapkan metode pembelajaran yang sesuai perkembangan zaman.
Tiga Pesan untuk Para Guru Ternate
Dalam kesempatan itu, Rizal menitipkan tiga pesan kepada para guru peserta workshop:
- Memperkuat literasi dan numerasi sebagai fondasi berpikir kritis siswa.
- Memanfaatkan teknologi secara bijak, aman, dan berorientasi pada tujuan pembelajaran.
- Membangun kolaborasi untuk mewujudkan pendidikan yang inklusif dan bermutu.
Ia berharap workshop tersebut tidak hanya menjadi kegiatan seremonial atau sekadar menghasilkan sertifikat, tetapi juga melahirkan perubahan nyata dalam proses belajar mengajar di sekolah.
"Saya berharap workshop ini tidak berhenti pada sertifikat, tetapi melahirkan aksi nyata di kelas-kelas kita," katanya.
Rizal kemudian secara resmi membuka workshop tersebut. Ia berharap seluruh peserta mengikuti kegiatan dengan baik dan memperoleh ilmu, inspirasi, serta pengalaman yang bisa diterapkan dalam tugas dan pengabdian sebagai pendidik.