TERNATE — Rumah panggung di punggung Danau Tolire berubah menjadi ruang belajar selama empat hari. Di lantai hutan Pulau Tareba yang daunnya mengering beterbangan, sepuluh anak muda duduk bersila mengikuti materi tentang ekosistem kepulauan dan perubahan iklim.
Camp Kaum Muda Estuaria yang digelar 20-23 Agustus 2026 ini merupakan agenda tahunan Perkumpulan Pakativa Maluku Utara sejak 2021. Peserta tidak sekadar berkemah menikmati alam bebas, tetapi menerima asupan materi tentang kondisi sosial budaya masyarakat pesisir, menulis, hingga kampanye penyelamatan lingkungan.
Bekal Menulis Narasi Lingkungan dari Lapangan
Direktur Perkumpulan Pakativa Maluku Utara, Zafira Daeng Barrang, mengatakan kelas ini bertujuan memberikan landasan bagi anak muda untuk berpikir dan memahami persoalan lingkungan. Ia berharap kegiatan ini membangun jaringan kaum muda yang responsif terhadap kerusakan lingkungan di Maluku Utara.
Para peserta mendapat materi dari Sosiolog Maluku Utara Dr Herman Oesman tentang kondisi sosial masyarakat pesisir dan kearifan lokal dalam memanfaatkan alam. Materi lain mencakup pengorganisasian rakyat dan praktik pemetaan lapangan untuk bekal pendampingan.
Pelatihan menulis menjadi perhatian khusus. Peserta dibekali dasar-dasar menulis agar mampu menuangkan hasil pengamatan di lapangan, terutama soal dampak perubahan iklim, aktivitas antroposentris, dan industri ekstraktif.
"Ini nantinya mereka bisa menuliskan narasi dan didukung dengan foto yang bisa dikampanyekan melalui media mainstream atau media sosial," ujar Zafira.
50 Mangrove Ditanam di Danau Tolire Kecil
Di hari terakhir, peserta melakukan aksi bersih pantai dan menanam 50 pohon mangrove di kawasan Danau Tolire Kecil. Aksi ini menjadi bentuk nyata mengawal kondisi pesisir yang menghadapi ancaman serius, mulai dari perluasan pemukiman hingga reklamasi pantai.
Sampah plastik yang terkumpul dari aksi bersih pantai mencapai karung-karung penuh. Berbagai jenis limbah mulai dari botol kemasan air mineral, kemasan sabun sampo, hingga plastik lainnya berhasil dibersihkan dari kawasan tersebut.
Ruang Belajar di Luar Kampus
La Ode Arman, peserta dari Universitas Muhammadiyah Maluku Utara, mengaku senang bisa bergabung dalam kelas belajar ini. Baginya, kegiatan ini menjadi cara mendapatkan pengetahuan di luar kampus yang bisa menjadi bekal setelah lulus.
"Saya mau ikut kelas ini sebagai cara saya mendapatkan pengetahuan di luar kampus yang bisa menjadi bekal setelah lulus," jelas mahasiswa komunikasi itu.
Hal serupa disampaikan Nurul Syakila A Kodja yang datang dari Tidore. Meski sibuk membantu usaha orang tuanya, ia masih menyempatkan diri mengikuti seluruh rangkaian kegiatan selama tiga hari di lapangan.
"Selain mendapatkan pengetahuan yang tidak ada di ruang kuliah, di forum ini bisa bertemu kawan-kawan anak muda yang baru dengan concern yang sama," imbuhnya.
Sejak 2021, alumni Kelas Estuaria telah tersebar di berbagai organisasi dan lembaga. Mereka membawa nilai dan kampanye lingkungan di tempat masing-masing bekerja.