Pencarian

Ternate Jadi Tuan Rumah Rakernas Kota Pusaka 2026, Pemerintah Diminta Fokus pada Kesejahteraan Masyarakat

Minggu, 23 Agustus 2026 • 15:30:32 WIB
Ternate Jadi Tuan Rumah Rakernas Kota Pusaka 2026, Pemerintah Diminta Fokus pada Kesejahteraan Masyarakat
Ternate ditetapkan sebagai tuan rumah Rakernas XII Jaringan Kota Pusaka Indonesia pada 24–28 Agustus 2026.

TERNATE — Gelaran Rakernas XII Jaringan Kota Pusaka Indonesia (JKPI) yang akan berlangsung di Ternate pada 24–28 Agustus 2026 mendatang membawa harapan besar bagi pengelolaan warisan budaya dan sejarah. Penetapan kota tersebut sebagai tuan rumah dengan mengusung tema "Ternate Episentrum Rempah Dunia" dinilai sebagai pengakuan atas peran strategis daerah ini dalam lintasan perdagangan global sejak berabad-abad lalu.

Dr. Yanuardi Syukur, Dosen Antropologi Sosial Universitas Khairun, menegaskan bahwa perhelatan ini harus dimaknai lebih dari sekadar acara tahunan. Menurutnya, daya tarik utama Rakernas bukan terletak pada aspek teknis penyelenggaraan, melainkan pada pesan mendalam tentang bagaimana kota pusaka mengelola sumber daya untuk mendorong kesejahteraan rakyat.

"Menggunakan dan menghargai sumber daya adalah komponen penting dari kehidupan manusia," tulis Yanuardi dalam tulisannya yang dikutip dari tandaseru.com, merujuk pada pemikiran Melles, Sosna, dan Jehli?ka (2026). Ia menambahkan bahwa sumber daya "muncul dari hubungan material dan konseptual antara manusia dan lingkungan, menawarkan wawasan tentang apa yang dianggap baik dan berharga oleh masyarakat."

Rempah Bukan Sekadar Komoditas, Melainkan Identitas Peradaban

Yanuardi menekankan bahwa cengkeh, pala, dan fuli yang tumbuh subur di tanah vulkanik Ternate bukanlah sekadar barang dagangan. Rempah-rempah tersebut merupakan denyut yang menghubungkan Nusantara dengan Eropa, Asia, dan Timur Tengah, sekaligus sumber daya peradaban yang membentuk identitas masyarakat.

Sejarah mencatat, jauh sebelum bangsa Eropa datang, cengkeh dan pala dari Ternate dan Tidore telah menjadi komoditas yang dibutuhkan pedagang dari berbagai penjuru dunia. Bahkan, bukti arkeologis menunjukkan cengkeh Maluku telah ditemukan sebagai arang dalam wadah keramik di kota kuno Suriah yang berusia lebih dari 3.500 tahun, serta digunakan di Mesir sebagai bahan pengawet jenazah sejak 3.000 tahun sebelum Masehi.

Pada abad ke-16, Ternate menjadi pusat perhatian para pedagang internasional di jalur pelayaran Indonesia bagian timur. Kepulauan Maluku Utara bahkan diberi nama "Jazirah Al Mulk" atau Negeri Raja-Raja oleh pedagang Arab, merujuk pada empat kerajaan bahari: Ternate, Tidore, Jailolo, dan Bacan.

Agenda Rakernas Dirancang Lebih dari Sekadar Rapat Formal

Rangkaian kegiatan Rakernas XII JKPI mencakup sembilan agenda besar yang jauh dari kesan birokratis. Selain Rapat Kerja Nasional, panitia menyiapkan Simposium Internasional, Pentas Budaya, Expo/Pameran, Festival Gastronomi, Penyerahan Pataka, Pawai Budaya dan Karnaval, Heritage City Tour, serta City Tour.

Keberagaman agenda ini menunjukkan bahwa pelestarian pusaka tidak bisa hanya bermuara pada pertemuan formal di ruang tertutup. Simposium Internasional, misalnya, akan mengusung narasi tentang pulau-pulau penghasil rempah sebagai daya tarik utama, sehingga peserta tidak hanya menonton acara tetapi juga memahami posisi strategis Ternate dalam sejarah dunia.

Jalur Rempah Jadi Gerbang Pertukaran Ilmu Pengetahuan

Interaksi antarbangsa yang lahir dari perdagangan rempah juga menjadi wahana transfer pengetahuan penting. Wakil Presiden KH Ma'ruf Amin pernah menegaskan bahwa rempah bukan sekadar komoditas unggulan ekonomi global, melainkan bangunan sejarah peradaban yang plural.

"Jalur Rempah menjadi gerbang pertukaran antarbudaya dan ilmu pengetahuan yang mewadahi berbagai konsep, gagasan, dan praktik yang melahirkan peradaban," tulis Yanuardi. Salah satu contoh paling terkenal adalah surat dari Ternate yang dikirim naturalis Inggris Alfred Russel Wallace kepada Charles Darwin pada 1858, berisi uraian tentang teori seleksi alam yang kemudian memaksa Darwin mempublikasikan pemikirannya.

Menurut Yanuardi, tanpa kekayaan biodiversitas Nusantara sebagai bahan observasi Wallace, teori evolusi mungkin butuh waktu jauh lebih lama untuk dipublikasikan. Hal ini membuktikan bahwa Ternate bukanlah wilayah terisolasi, melainkan simpul penting dalam jaringan perdagangan dan pengetahuan Nusantara serta dunia.

Follow lensaternate.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: tandaseru.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks