MALUKU UTARA — Selama ini, banyak pekebun hanya fokus mengejar jumlah panen sebanyak-banyaknya. Padahal, kualitas TBS sama pentingnya dalam menentukan harga jual dan rendemen minyak. Wakil Direktur AKPY Idum Satia Santi menegaskan, panen yang tidak tepat waktu—baik terlalu muda maupun terlalu matang—justru menurunkan kualitas minyak sawit dan berujung pada harga yang rendah.
"Panen tepat waktu, pemanenan harus sesuai standar, pengumpulan brondolan yang baik, termasuk pengiriman TBS yang cepat ke pabrik, akan sangat menentukan mutu buah, rendemen minyak, dan pada akhirnya meningkatkan pendapatan petani," kata Idum dalam keterangan tertulis, Sabtu (18/7/2026).
Dari Potong Tandan hingga Jaga Kadar Asam Lemak
Dalam pelatihan ini, peserta tidak sekadar belajar cara memotong tandan buah. Mereka juga diajarkan menentukan tingkat kematangan buah secara tepat, mengumpulkan brondolan secara optimal, serta mempercepat pengangkutan TBS ke pabrik. Langkah-langkah itu krusial untuk menjaga kadar asam lemak bebas (ALB) tetap rendah, yang menjadi salah satu indikator mutu utama minyak sawit.
Seluruh materi pelatihan dikaitkan dengan penerapan Good Agricultural Practices (GAP). Mulai dari teknik pemupukan, pengelolaan tanah, hingga pengendalian hama dan penyakit. Pendekatan ini diharapkan bisa menjadi kebiasaan baru bagi pekebun di Paser, bukan sekadar teori di ruang kelas.
Dampak Langsung ke Pendapatan Pekebun
Program yang masuk dalam skema Pengembangan SDM Perkebunan (SDMP) 2026 ini merupakan respons atas masih rendahnya kesadaran pekebun terhadap pentingnya penanganan pascapanen. Idum mencontohkan, TBS yang lambat dikirim ke pabrik bisa mengalami kenaikan ALB, yang otomatis menurunkan harga beli dari pabrik kelapa sawit.
Dengan perbaikan di rantai panen dan pascapanen, pekebun tidak hanya mendapatkan harga jual yang lebih baik, tetapi juga meningkatkan rendemen minyak per hektare. Hasilnya, pendapatan mereka bisa naik signifikan tanpa perlu memperluas lahan.
Pelatihan ini menjadi salah satu upaya BPDP dan Ditjenbun untuk memperkuat posisi pekebun swadaya dalam rantai pasok sawit nasional, yang selama ini kerap menjadi titik lemah dalam hal mutu dan produktivitas.