MALUKU UTARA — Aliansi Penyelamat Gunung Ungaran dan Telomoyo resmi membentuk koordinator wilayah Kendal dalam pertemuan yang dihadiri puluhan relawan. Forum itu menjadi titik awal penyatuan sikap masyarakat lereng gunung yang berada di sisi utara kawasan.
Koordinator Wilayah Aliansi Penyelamat Gunung Ungaran dan Telomoyo Kendal, Sri Joko Triyono, menyatakan forum ini dibentuk sebagai ruang terbuka untuk menyampaikan keberatan kepada pemerintah dan pihak terkait.
"Ini adalah wadah untuk menyuarakan keresahan kita tentang proyek energi panas di Gunung Ungaran, karena bagian utara adalah wilayah Kendal. Korwil ini nantinya akan menjadi sarana pegiat lingkungan untuk melakukan penolakan," kata Sri Joko.
Alasan Warga Menolak Proyek Panas Bumi
Kekhawatiran warga tidak berhenti pada isu pembangunan fisik. Mereka menyoroti potensi perubahan kondisi kawasan, risiko geologis, hingga dampak sosial-ekonomi bagi masyarakat yang tinggal di sekitar lereng.
Sri Joko menegaskan generasi mendatang tidak boleh menanggung risiko dari proyek ini. Ia juga menyebut pasokan listrik Jawa Tengah dinilai sudah mencukupi.
"Kita tidak mau anak cucu nantinya menanggung risiko dari pembangunan proyek ini. Pasalnya Jawa Tengah tidak kekurangan pasokan listrik sehingga tidak perlu proyek energi panas bumi ini," tegasnya.
Nilai Ekologis Gunung Ungaran Jadi Sorotan
Relawan asal Limbangan, Hindrawan, menilai kawasan Gunung Ungaran menyimpan nilai ekologis yang tidak bisa dikorbankan begitu saja demi infrastruktur energi.
"Kita tidak ingin kelestarian alam rusak akibat proyek energi panas ini. Relawan di sini siap menggalang kekuatan untuk menggagalkan proyek ini dengan dalih apa pun," ujarnya.
Ketua Aliansi Penyelamat Gunung Ungaran dan Telomoyo, Hafidz Sungkar, menyatakan aliansi dibentuk sebagai ruang bersama berbagai kelompok masyarakat. Menurutnya, hasil pengamatan menunjukkan penyediaan listrik di Pulau Jawa sudah surplus.
"Dari hasil pengamatan penyediaan listrik di Pulau Jawa sudah cukup dan surplus sehingga tidak perlu ada pemaksaan pembangunan geothermal ini," ujarnya.
Dukungan dari Relawan Sosial
Penolakan juga datang dari kelompok relawan sosial. Ketua Rescue Ambulan Siboli, Susanto, menyatakan pihaknya mempertimbangkan potensi dampak yang akan dirasakan warga sekitar kawasan proyek.
"Kami melihat tidak ada manfaat bagi warga di sekitar lereng gunung dari proyek ini. Hanya akan membuat kerusakan dan berdampak pada warga di sekitar lereng Gunung Ungaran. Kami dari Rescue Ambulan Siboli yang bergerak di lingkup sosial ikut mendukung dan menolak," ungkapnya.
Di Sisi Lain: Geothermal sebagai Energi Terbarukan
Geothermal selama ini dipandang sebagai salah satu sumber energi terbarukan yang dapat menopang sistem kelistrikan sekaligus menekan ketergantungan pada energi fosil. Karena itu, perbedaan pandangan di Gunung Ungaran menjadi bagian dari tantangan yang perlu dijawab lewat kajian, keterbukaan informasi, dan dialog dengan warga terdampak.
Aliansi Penyelamat Gunung Ungaran dan Telomoyo menyatakan akan terus memperkuat komunikasi dengan berbagai kelompok masyarakat di kawasan lereng, terutama yang berada di wilayah Kendal.
Rencana geothermal Gunung Ungaran kini tidak hanya menyangkut energi di bawah permukaan bumi, tetapi juga kepercayaan masyarakat, kelestarian kawasan, dan bagaimana sebuah proyek energi besar memperoleh ruang tumbuh di tengah kehidupan warga yang telah lebih dulu ada di sekitarnya.