TERNATE — Sosok Ir. Muhdin Ma'bud meninggalkan jejak mendalam bagi siapa pun yang pernah bersinggungan dengannya. Ia bukan sekadar birokrat atau calon pemimpin daerah, melainkan representasi dari perjalanan panjang seorang anak kampung yang memilih untuk kembali dan mengabdi di tanah kelahirannya. Perjumpaan dengannya kerap meninggalkan kesan yang sulit dilupakan, seperti benang merah yang menyambungkan masa lalu dengan masa depan Halmahera Timur.
Kontestasi 2005 dan Sepucuk Kalimat yang Menggema
Pada 2005 lalu, Mamat Jalil, yang kini menjabat Ketua KPU Halmahera Timur periode 2019-2024, mengisahkan perjumpaan pertamanya dengan Muhdin di kediamannya di kawasan Ubo-Ubo, Kota Ternate. Saat itu, Muhdin baru saja melewati dinamika politik lokal yang melelahkan untuk merebut kursi Bupati Halmahera Timur, sebuah pertarungan yang belum berpihak padanya.
Dalam perbincangan santai itu, Muhdin menuturkan liku-liku perjalanan hidupnya, dari pendidikan, birokrasi, hingga keputusannya untuk kembali. Ada satu kalimat yang kemudian terus membekas di ingatan Mamat. "Saya sudah kembali ke tanah lahir. Saya sudah lupa jalan balik," ujar Muhdin dengan tenang dan penuh keyakinan.
Bukan Sekadar Kembali: Sebuah Keputusan Politik Keberakaran
Kini, ketika Muhdin telah tiada, kalimat itu seperti menemukan lapisan makna baru. Jika menukil perspektif Roland Barthes, kata "pulang" dalam diri Muhdin bukanlah sekadar perpindahan geografis. Kata itu menjadi simbol tentang pilihan dan keberpihakan yang utuh.
Muhdin meninggalkan tanah kelahirannya untuk menempuh pendidikan di Makassar, dari SMP hingga meraih gelar sarjana di Universitas Hasanuddin. Ia sempat membangun karier di birokrasi pemerintahan pusat di Jakarta. Namun, kesuksesan di ibu kota tak membuatnya betah. Batinnya terus terusik oleh panggilan untuk kembali ke Maluku Utara.
Keputusannya untuk meninggalkan karier di pusat dan mengabdikan diri di daerah adalah bentuk konkret dari keberaniannya menolak menjadi "perantau yang lupa dirinya". Justru di kampung halaman, Muhdin memilih untuk mengabdi hingga akhir hidupnya, menjadikan pengalaman dari luar sebagai bekal untuk membangun negeri.
Warisan Kata untuk Generasi Muda
Lebih dari sekadar jabatan, Muhdin meninggalkan warisan berupa kata-kata yang kerap ia ujarkan: pulang, negeri, zikir, kapita muda, dan kabata. Kata-kata ini bukan sekadar retorika, melainkan peta jalan untuk generasi penerus Halmahera Timur.
Melalui diksi seperti kapita muda, tersirat pesan kuat tentang pentingnya regenerasi kepemimpinan. Sementara kata negeri dan kuasa mengandung refleksi tentang bagaimana kekuasaan seharusnya digunakan. Muhdin mengajarkan bahwa pembangunan sejati tidak berhenti pada infrastruktur, tetapi juga pada penanaman nilai dan keberanian politik untuk kembali membangun dari akar.
Sosok Muhdin Ma'bud kiranya menjadi cermin bahwa "rumah adalah tempat seseorang bermula." Ia telah membuktikan bahwa pengabdian yang paling otentik justru lahir dari kesediaan untuk kembali, untuk mengingat asal-usul, dan untuk menyerahkan segalanya bagi tanah yang melahirkan.