Pencarian

Roket Falcon 9 SpaceX untuk Pertama Kalinya Diukur Polusi Tak Kasat Matanya, Hasilnya Mengejutkan Ilmuwan

Minggu, 21 Juni 2026 • 22:20:01 WIB
Roket Falcon 9 SpaceX untuk Pertama Kalinya Diukur Polusi Tak Kasat Matanya, Hasilnya Mengejutkan Ilmuwan
Peneliti mengukur emisi partikel dan gas buang dari roket Falcon 9 untuk pertama kalinya di atmosfer atas.

Roket Falcon 9 milik SpaceX mungkin terlihat hanya menyemburkan uap air putih saat meluncur, tapi penelitian terbaru mengungkapkan ada polusi tak kasat mata yang ikut tersembunyi di balik asapnya. Untuk pertama kalinya, para peneliti berhasil mengukur emisi partikel dan gas buang dari roket tersebut secara langsung di lapisan atmosfer atas. Hasilnya mengindikasikan bahwa meskipun volume peluncuran roket masih kecil dibandingkan industri penerbangan, dampak per satuan peluncurannya bisa sangat signifikan.

Bukan Cuma Uap Air, Ada Karbon Hitam dan Oksida Nitrogen

Selama ini, pembakaran bahan bakar roket kerap dianggap sebagai sumber polusi yang minimal karena sebagian besar emisinya adalah uap air. Namun studi yang dilakukan oleh tim dari University of Cambridge dan National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA) menemukan bahwa Falcon 9 juga mengeluarkan partikel karbon hitam (black carbon) dan oksida nitrogen dalam jumlah yang tidak bisa diabaikan.

Karbon hitam adalah partikel yang menyerap panas dan bisa mempercepat pemanasan global jika dilepaskan di stratosfer. Sementara oksida nitrogen berperan dalam menipiskan lapisan ozon. “Ini pertama kalinya kami memiliki data empiris dari roket komersial yang beroperasi,” kata Dr. Eloise Marais, salah satu peneliti dalam studi tersebut.

Kenapa Baru Sekarang Diukur?

Alasannya sederhana: sulit. Roket meluncur melewati berbagai lapisan atmosfer dengan kecepatan tinggi, dan mengambil sampel gas buang di ketinggian 10 hingga 50 kilometer bukanlah pekerjaan mudah. Tim peneliti menggunakan pesawat riset khusus yang diterbangkan di jalur yang sama dengan lintasan Falcon 9 beberapa menit setelah peluncuran.

Hasil pengukuran menunjukkan bahwa konsentrasi partikel di plume roket bisa mencapai ribuan kali lipat lebih tinggi dari latar belakang atmosfer normal. Ini artinya, satu kali peluncuran Falcon 9 bisa meninggalkan jejak polusi yang bertahan lebih lama di stratosfer dibandingkan emisi dari pesawat komersial di ketinggian yang sama.

Industri Antariksa Mulai Didesak Transparan

Temuan ini muncul di saat industri antariksa global tengah mengalami ledakan peluncuran. SpaceX sendiri menargetkan lebih dari 100 misi Falcon 9 pada tahun ini, belum termasuk uji terbang Starship yang jauh lebih besar. Jika tren ini terus berlanjut tanpa mitigasi, akumulasi emisi di stratosfer bisa menjadi masalah baru yang tidak terduga.

“Kita tidak bisa lagi menganggap peluncuran roket sebagai aktivitas yang ramah lingkungan hanya karena tidak menghasilkan asap hitam pekat,” ujar Dr. Marais. “Polusi tak kasat mata ini nyata, dan kita baru mulai memahaminya.”

Beberapa badan antariksa seperti NASA dan ESA sudah mulai mendanai riset bahan bakar alternatif, termasuk metana cair dan hidrogen hijau. Namun untuk saat ini, Falcon 9 masih menggunakan RP-1, bahan bakar berbasis minyak tanah yang terkenal kotor secara emisi.

Apa Artinya Bagi Indonesia?

Meskipun Indonesia belum memiliki program peluncuran roket komersial, dampak dari polusi stratosfer bersifat global. Setiap partikel yang dilepaskan di khatulistiwa—lokasi ideal peluncuran roket—dapat menyebar ke seluruh belahan bumi dalam hitungan minggu. Bagi negara tropis seperti Indonesia, perubahan komposisi stratosfer bisa mempengaruhi pola radiasi matahari yang mencapai permukaan bumi.

Penelitian ini juga menjadi pengingat bahwa setiap terobosan teknologi—termasuk internet satelit Starlink yang digadang-gadang akan memperluas akses digital di Indonesia—memiliki harga lingkungan yang harus diperhitungkan. Pertanyaannya sekarang: apakah industri antariksa siap membayar harga itu?

Bagikan
Sumber: bgr.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks