Pencarian

3 Prinsip Kepemimpinan Haji Burhan Abdurahman: Dari Membangun SDM Ternate Hingga Transparansi APBD Persiter

Sabtu, 04 Juli 2026 • 20:14:01 WIB
3 Prinsip Kepemimpinan Haji Burhan Abdurahman: Dari Membangun SDM Ternate Hingga Transparansi APBD Persiter
Haji Burhan Abdurahman fokus membangun sumber daya manusia di Ternate yang telah maju secara fisik.

TERNATE — Haji Burhan Abdurahman, yang akrab disapa Haji Bur, bukanlah tipe pemimpin yang gemar bersolek di depan panggung. Di balik setiap kebijakan yang ia ambil, ada pertimbangan moral yang kuat dan rasionalitas yang dingin. Hal ini tercermin dari cara ia memandang Ternate yang sudah maju secara fisik di era pendahulunya, H. Syamsir Andili.

"Ternate su maju, fasilitas su bagus. Ada kekurangan tapi tra banya. Saya ingin benahi manusianya," kata Haji Bur dalam sebuah diskusi futuristik di dalam kabin pesawat menuju Beijing, seperti yang dikenang oleh Asghar Saleh, seorang kolega yang turut dalam perjalanan tersebut.

Visi Pembangunan Manusia di Tengah Infrastruktur yang Matang

Alih-alih mengejar proyek fisik baru, Haji Bur memilih konsentrasi pada pembangunan sumber daya manusia dan infrastruktur immaterial. Ia meyakini bahwa kota yang tumbuh secara fisik tanpa dibarengi perbaikan kualitas manusianya hanya akan melahirkan kegersangan dan kehilangan identitas. Salah satu bukti nyata dari pendekatan ini adalah program "Barifola", sebuah inisiatif membangun kembali rumah warga tidak mampu tanpa menggunakan anggaran pemerintah, murni dari gotong royong dan kepedulian sosial.

Transparansi Anggaran: Pelajaran dari Manajer Persiter Ternate

Prinsip kehati-hatian dan transparansi Haji Bur teruji saat ia dipercaya menjadi manajer Persiter Ternate pada 2005. Tim berjuluk Laskar Kie Raha itu tengah berjuang di Divisi 1 PSSI dengan target promosi ke Divisi Utama. Sumber dana utama tim berasal dari APBD Kota Ternate yang saat itu tak lebih dari Rp 500 miliar.

Dengan anggaran terbatas yang harus dibagi untuk urusan prioritas seperti pendidikan dan kesehatan, Haji Bur menerapkan prinsip ketat. "Harus jujur, ini uang rakyat. Jangan digunakan untuk keperluan lain," tegasnya kala itu. Ia memilih untuk tidak hadir di laga-laga krusial, seperti saat pertandingan 6 besar di Soreang, Kabupaten Bandung, dan lebih fokus memastikan kebutuhan logistik tim terpenuhi dari jauh.

Saat Persiter akhirnya mengalahkan Persibo Bojonegoro dan memastikan promosi ke Divisi Utama, Haji Bur justru memilih untuk menepi dan bersyukur. Ia adalah sosok yang jauh dari selebrasi, lebih suka mengakui peran orang lain di balik kesuksesan tim.

Akar Kepemimpinan: Dari Pegawai Pajak hingga Doktor Hukum

Karier Haji Bur bermula dari bawah. Setelah menyelesaikan studi di Akademi Pajak Makassar, ia kembali ke Ternate dan mengabdi sebagai Pegawai Negeri Sipil di Dinas Pendapatan Daerah Provinsi Maluku. Dari kantor Samsat itulah kariernya meroket hingga menjadi Kepala Dinas Pendapatan Kota Ternate dan akhirnya Sekretaris Daerah.

Meski bergelut dengan angka-angka pendapatan daerah, hal itu tidak mengubah pandangan hidupnya. Baginya, kepemimpinan adalah amanah. Prinsip "harishun 'alaikum" — laku yang penuh perhatian dan kasih sayang terhadap rakyat — menjadi pedoman yang ia pegang teguh, sebagaimana teladan dari Imam Ibnu Taimiyyah dalam kitab "As-Siyasah Asy-Syar'iyyah".

Bagikan
Sumber: tandaseru.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks