MALUKU UTARA — Pola asuh di Italia, Prancis, Jerman, dan Islandia punya satu benang merah: anak dilatih mandiri sejak kecil, bukan lewat ceramah. Lima kebiasaan berikut bisa Ibu contek untuk membangun rutinitas dan disiplin di rumah tanpa harus meniru mentah-mentah budaya asingnya.
Profesor sosiologi keluarga University of Turin, Manuela Naldini, menyebut solidaritas antar generasi sebagai fondasi pengasuhan di Italia. Kakek dan nenek ikut mengurus cucu hampir setiap hari, bukan sekadar sesekali saat lebaran atau libur sekolah.
Budaya itu tumbuh dari tradisi, bukan dari pembagian tugas antara ayah dan ibu semata. Dampaknya, ibu muda di Italia punya jaringan bantuan yang luas saat harus kembali bekerja.
1. Italia: Makan Malam Bersama dan Bantuan Kakek-Nenek
Keluarga di Italia berusaha makan malam bersama anak-anak dan menerapkan jam tidur lebih awal. Meja makan jadi tempat anak belajar bicara, mendengar, dan menghormati giliran.
Naldini menegaskan peran kakek-nenek di sana bukan pelengkap. "Kakek-nenek memainkan peran penting dalam membantu mewujudkan pengaturan pengasuhan anak," ujarnya, dikutip dari The Guardian.
2. Prancis: Anak Bermain Sendiri, Orang Tua Duduk di Pinggir Taman
Orang tua Prancis membiarkan anak bermain dengan teman sebaya tanpa diawasi ketat. Sementara anak-anak berlarian, mereka duduk di pinggir lapangan, mengobrol, atau memegang ponsel.
Waktu makan dijaga ketat: sarapan, makan siang, makan malam, plus camilan sore yang disebut le goûter. Anak hanya dapat camilan sore jika sudah makan di jam yang ditentukan.
Tata krama juga diajarkan sejak dini. Anak dibiasakan menyapa "bonjour", mengucapkan "merci", dan berpamitan dengan "au revoir" kepada orang dewasa.
3. Jerman: Berhenti Memuji "Bagus Sekali" Sepanjang Waktu
Salah satu prinsip pengasuhan di Jerman adalah menahan diri memberi selamat berlebihan. Pujian terus-menerus dikhawatirkan membuat anak merasa selalu dinilai orang tuanya.
Orang tua di Jerman lebih memilih mengomentari kemajuan konkret, misalnya "kamu sudah bisa mengikat tali sepatu sendiri". Kebiasaan tidur pun longgar: banyak keluarga punya tempat tidur besar bersama anak hingga usia enam atau tujuh tahun.
Anak juga dibiarkan bermain pasir, lumpur, dan genangan air di taman. Banyak yang sudah lancar memanjat pohon di usia balita.
4. Islandia: Tidak Ada Hukuman, Anak Dibantu Mengatasi Situasi
Konsultan model pengasuhan Kristín Cardew menjelaskan pendekatan Islandia yang menolak hukuman. "Hukuman tidak pernah digunakan di sekolah kami, karena kami adalah orang dewasa," katanya.
Guru menjaga anak tetap dekat agar bisa turun tangan sebelum perilaku bermasalah muncul. Anak yang kesulitan tidak dipermalukan, melainkan dipindah ke lingkungan yang lebih sesuai.
Peran ayah juga ditonjolkan dalam pola asuh Islandia. Cuti ayah yang panjang membuat pengasuhan tidak menumpuk di pundak ibu saja.
Apa yang Bisa Ibu Contek di Rumah
Tidak semua kebiasaan di atas cocok dengan ritme keluarga Indonesia. Mulai dari yang paling ringan: jaga jam makan malam tetap sama tiap hari, beri anak ruang bermain tanpa diawasi terus-menerus, dan ganti pujian "bagus" dengan apresiasi yang spesifik.
Libatkan kakek-nenek bila memungkinkan, terutama saat Ibu butuh waktu istirahat atau bekerja. Dukungan antar generasi terbukti meringankan beban pengasuhan sehari-hari.
Kapan Perlu Konsultasi ke Dokter Anak
Bila anak menunjukkan tantangan perilaku yang menetap, seperti sulit tidur berbulan-bulan, agresif di sekolah, atau menolak makan secara ekstrem, jangan ditangani sendiri. Konsultasikan ke dokter anak atau psikolog anak untuk mendapat arahan sesuai usia dan kondisi si kecil.
Meniru pola asuh negara lain tidak harus seratus persen. Yang terpenting, pilih satu kebiasaan yang paling masuk akal untuk keluarga Ibu, jalankan konsisten dua sampai tiga minggu, lalu lihat perubahannya.