MALUKU UTARA — Penandatanganan kontrak ini tercatat dalam keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia (BEI) yang dirilis Rabu (9/9/2026). PLTA Pongbembe menjadi salah satu proyek strategis ARKO dalam memperluas portofolio pembangkit energi terbarukan di Indonesia.
Nilai Kontrak dan Pihak yang Terlibat
Perjanjian konstruksi senilai Rp287,98 miliar ini diteken oleh dua entitas yang berada dalam satu grup kendali ARKO. Aekon dan Nosu berperan sebagai pihak pelaksana konstruksi proyek PLTA berkapasitas 20 MW tersebut.
Manajemen ARKO menyebut struktur transaksi antarentitas ini dipilih untuk mempermudah koordinasi lintas entitas dalam grup. Selain itu, skema ini menjaga kerahasiaan strategi bisnis perusahaan dari kompetitor.
"Nosu dan Aekon akan lebih mudah dalam melakukan komunikasi dan konsolidasi kepentingan karena masih dalam satu grup perusahaan," tulis manajemen ARKO dalam keterbukaan informasi BEI.
Alasan di Balik Transaksi Antarentitas
Transaksi antara dua anak usaha yang sama-sama dikendalikan ARKO ini bukan tanpa alasan. Manajemen menilai efisiensi operasional dan efektivitas pelaksanaan proyek menjadi pertimbangan utama.
Dari sisi tata kelola, transaksi afiliasi seperti ini umum dilakukan emiten yang memiliki beberapa entitas anak di lini bisnis berbeda. ARKO memilih mengonsolidasikan kepentingan kedua anak usaha agar proses konstruksi berjalan lebih mulus.
PLTA Pongbembe sendiri menyasar kapasitas 20 MW, skala menengah yang sejalan dengan fokus ARKO di segmen pembangkit listrik tenaga air. Perusahaan sebelumnya dikenal menggarap beberapa proyek PLTA di wilayah Indonesia.
Target Operasi Komersial 4-5 Tahun
Direktur Utama Arkora Hydro Aldo Artoko sebelumnya menyatakan PLTA Pongbembe ditargetkan beroperasi secara komersial dalam 4-5 tahun setelah konstruksi dimulai. Dengan kontrak yang baru diteken September 2026, target operasi komersial mengarah ke kisaran 2030-2031.
Tenggat waktu tersebut mencerminkan karakteristik proyek PLTA yang butuh perencanaan sipil, instalasi turbin, dan pengujian sistem sebelum masuk tahap komersial. Proyek energi terbarukan berbasis air umumnya memiliki siklus konstruksi lebih panjang dibanding PLTS.
Arti bagi Pemegang Saham ARKO
Kepastian kontrak konstruksi menjadi sinyal progres bagi investor yang memantau pipeline proyek ARKO. Nilai Rp287,98 miliar mencerminkan belanja modal signifikan yang akan dikucurkan bertahap sepanjang masa konstruksi.
Pendapatan dari PLTA baru umumnya baru terasa setelah operasi komersial dimulai, sehingga dampak ke kinerja keuangan ARKO perlu dilihat dalam jangka menengah. Pasar akan mencermati realisasi tahapan konstruksi dan pendanaan proyek ini.
Investasi mengandung risiko.