TIDORE — Pendidikan Pembentukan Bintara Polri tahun anggaran 2026 di Maluku Utara resmi dimulai. Sebanyak 84 calon siswa dari seluruh kabupaten dan kota mengikuti upacara pembukaan yang digelar di SPN Polda Maluku Utara, Kelurahan Gurabati, Senin lalu.
Upacara dipimpin langsung oleh Kapolda Maluku Utara Irjen Pol. Arif Budiman. Wali Kota Tidore Kepulauan diwakili oleh Staf Ahli Bidang Ekonomi, Pembangunan dan Keuangan Abdul Hakim Adjam yang turut hadir dalam prosesi tersebut.
Pesan Khusus untuk Calon Bintara dari Tidore
Abdul Hakim menyampaikan pesan kepada seluruh calon siswa, terutama yang berasal dari Kota Tidore Kepulauan. Ia meminta mereka mengikuti pendidikan hingga tuntas dan menyerap seluruh ilmu yang diberikan.
"Jadilah siswa yang benar-benar mengikuti pendidikan bintara ini hingga selesai, serap seluruh ilmu yang didapatkan agar kedepan dapat menerapkan kepada seluruh masyarakat Maluku Utara khususnya di Kota Tidore Kepulauan," pesan Abdul Hakim dalam keterangannya.
Ia juga mengingatkan agar para siswa tidak mengecewakan daerah dan orang tua. "Ingat bahwa harus tetap semangat dalam mengikuti pendidikan ini," tambahnya.
Pendidikan Berlangsung Lima Bulan, Fokus pada Moral dan Literasi
Dalam amanat Kapolri yang dibacakan Kapolda, pendidikan ini disebut sebagai program strategis Polri untuk meningkatkan pelayanan masyarakat dan memperkuat tugas kepolisian di seluruh Indonesia. Proses pendidikan tidak boleh dipandang sekadar perubahan status, melainkan transformasi pengetahuan, keterampilan, sikap, karakter, mental, dan budaya.
"Setiap peserta didik keluar sebagai insan Bhayangkara yang profesional, bermoral, dan siap mengabdi kepada masyarakat, bangsa, dan negara," kata Kapolda.
Pendidikan ini akan berlangsung selama lima bulan. Secara nasional, total peserta didik mencapai 4.799 orang, dengan rincian 709 wanita di Sepolwan Lemdiklat Polri dan 4.090 pria di 31 SPN Polda.
Tema Pendidikan: Mendukung Program Kedaulatan Pangan dan Energi
Tema yang diusung tahun ini adalah "Membangun Ketangguhan Pendidikan Polri yang Berbasis Moral dan Literasi untuk Mendukung Program Kedaulatan Pangan, Energi, dan Ekonomi yang Produktif serta Inklusif". Tema ini menegaskan bahwa pendidikan Polri tidak hanya membentuk personel yang kuat dan terlatih, tetapi juga memiliki ketajaman moral dan kemampuan memahami perkembangan lingkungan strategis.
Kapolda menekankan bahwa moral dan integritas harus menjadi fondasi utama. "Kewenangan kepolisian yang tidak disertai moral dan integritas dapat berubah menjadi penyalahgunaan kekuasaan dan mencederai kepercayaan masyarakat terhadap Polri," tegasnya.
Instruktur Dilarang Keras Melakukan Kekerasan Fisik dan Mental
Kapolda memberikan instruksi tegas kepada kepala SPN, tenaga pendidik, instruktur, pengasuh, dan tenaga kependidikan. Mereka diminta menyelenggarakan pendidikan dengan penuh tanggung jawab, profesional, dan berorientasi pada mutu lulusan.
"Terapkan disiplin secara tegas, adil, dan konsisten. Hindari segala bentuk kekerasan, perundungan, penghukuman yang merendahkan martabat, serta tindakan lain yang bertentangan dengan hukum dan nilai-nilai kemanusiaan," ujar Kapolda.
Ia juga mengingatkan agar instruktur menjadi teladan dalam sikap, ucapan, kedisiplinan, dan integritas. "Pendidikan yang keras tidak harus kasar. Latihan yang berat tidak boleh kehilangan martabat. Ketegasan harus membentuk karakter, bukan menumbuhkan dendam," tambahnya.
Upacara pembukaan diakhiri dengan penyiraman air kembang kepada perwakilan siswa dan oleh orang tua kepada anak-anak mereka.