TIDORE — Lapangan Bola Dusun Paceda, Desa Akedotilou, Kecamatan Oba Tengah, berubah menjadi panggung budaya, Rabu pekan lalu. Ratusan pelajar dan pemuka adat memadati lokasi untuk mengikuti Festival Sorame Gam Ngofa Loa Ma Munara yang dibuka langsung oleh Wali Kota Tidore Kepulauan, Muhammad Sinen.
Acara bertema “Kabata” Kolaborasi Adat Budaya Seaturan ini turut dihadiri Sultan Tidore, H. Husain Alting Sjah, anggota DPRD setempat, serta pimpinan organisasi perangkat daerah (OPD).
Bahasa Tidore Akan Masuk Kurikulum dan Jadi Wajib di Sekolah
Dalam sambutannya, Muhammad Sinen menegaskan bahwa upaya pelestarian budaya tidak bisa setengah-setengah. Ia mengumumkan Dinas Pendidikan akan memasukkan bahasa Tidore ke dalam kurikulum sekolah. Lebih dari itu, direncanakan satu hari khusus dalam sepekan bagi siswa untuk menggunakan bahasa daerah saat berkomunikasi di lingkungan sekolah.
“Nilai budaya dan sejarah kita ibarat uang seratus ribu rupiah. Meski diremas atau diinjak, nilainya tetap tinggi dan tidak akan berubah. Itulah identitas kita yang harus dijaga,” ujar Wali Kota.
Pesan untuk Generasi Muda: Jadi Agen Perubahan, Bukan Perusak
Muhammad Sinen juga mengingatkan generasi muda agar tidak melupakan jati diri budaya di tengah derasnya arus teknologi. Ia meminta mereka menjadi agen perubahan yang positif dan menjauhi tindakan anarkis.
“Jadilah agen perubahan. Jangan bertanya apa yang diberikan pemerintah kepadamu, tetapi tanyakan apa yang sudah kamu berikan untuk daerahmu,” tegasnya.
Sultan Tidore Tekankan Kemanusiaan dan Kemandirian
Sultan Tidore, H. Husain Alting Sjah, dalam kesempatan yang sama mengingatkan bahwa kemuliaan seseorang tidak diukur dari suku atau warna kulit, melainkan dari amal dan kualitas diri. Ia juga mendorong warga untuk lebih kreatif dan mandiri di tengah tantangan ekonomi global, termasuk mengelola lingkungan secara swadaya.
“Marilah kita doakan para pemimpin kita agar tetap amanah membawa rahmat bagi daerah ini,” ujar Sultan.
Lomba Tari hingga Karaoke, Panitia Harap Jadi Agenda Tahunan
Ketua Panitia, Cintia Muhammad, melaporkan festival ini menjadi ruang ekspresi bagi anak muda sekaligus upaya memperkuat budaya lokal di tengah globalisasi. Berbagai lomba digelar untuk tingkat SD, SMP, dan SMA, meliputi tari daerah, dialog bahasa Tidore, baca puisi, dan karaoke lagu daerah.
Ia berharap Festival Sorame Gam bisa ditetapkan sebagai agenda budaya tahunan resmi Pemkot Tidore Kepulauan dan Kesultanan Tidore agar pembinaan budaya berkelanjutan.