HALMAHERA SELATAN — Di tengah hiruk-pikuk aktivitas pertambangan di Pulau Obi, Danau Karo hadir bak oasis yang memasok sekitar 7.000 meter kubik air per hari. Air danau ini tidak hanya digunakan untuk operasional industri, tetapi juga untuk kebutuhan domestik harian warga.
Sadar akan peran vital danau tersebut, Harita Nickel—salah satu perusahaan yang memanfaatkan air dari Danau Karo—melakukan pemantauan kualitas air secara rutin. Salah satu kegiatannya adalah pengambilan sampel yang dilakukan bersama PT Analitika Kalibrasi Laboratorium (Ankal).
Hasil Uji Kualitas Air Masih dalam Ambang Normal
Hasil pengujian in-situ yang dilakukan di tepi danau menunjukkan pH air sebesar 7,6, kadar oksigen terlarut (DO) 7,6 mg/L, dan daya hantar listrik (DHL) 169,7 µS/cm. Angka-angka itu menandakan kualitas air Danau Karo masih memenuhi baku mutu yang berlaku.
Selain parameter tersebut, tim juga mengukur total padatan terlarut (TDS), suhu, warna, bau, dan kekeruhan air. Seluruh parameter secara konsisten berada dalam ambang batas normal.
Untuk pengujian yang lebih detail, sampel air juga dikirim ke laboratorium eksternal yang telah terakreditasi. “Untuk pengujian logam berat, mikrobiologi, dan parameter kimia kompleks dilakukan di laboratorium eksternal yang telah terakreditasi. Pengujian ini kami lakukan secara berkala,” ujar Angger Kusuma, Environmental Operations Supervisor PT Obi Nickel Cobalt, unit usaha Harita Nickel.
Larangan Aktivitas Tambang di Sekitar Danau
Status Danau Karo sebagai kawasan Bernilai Konservasi Tinggi (NKT) membuat area di sekitarnya tidak boleh digunakan untuk pertambangan atau pembangunan sarana fisik. Perusahaan yang memiliki izin penggunaan air wajib mencatat dan melaporkan setiap pemakaian secara berkala kepada pemerintah.
“Jadi alangkah sangat pentingnya kami menjaga sumber air ini. Harapannya, melalui pemantauan yang kami lakukan secara berkala, kami bisa memastikan apakah ada perubahan terhadap baku mutu lingkungan atau dampak dari operasional perusahaan,” jelas Angger.
Ekosistem Liar yang Masih Bertahan di Sempadan Danau
Perlindungan terhadap Danau Karo tidak hanya soal kualitas air. Di daratan dan sempadan danau, berbagai satwa liar seperti soa-soa, burung, reptil, babi hutan, hingga buaya air tawar masih menjadikan kawasan ini sebagai habitat terakhir mereka.
Melalui program Biodiversity Action Plan (BAP), Harita Nickel melakukan inventarisasi keanekaragaman hayati serta pemantauan flora dan fauna secara berkala. Data ilmiah yang dihasilkan digunakan untuk mengevaluasi kondisi ekosistem dan menyusun strategi konservasi adaptif ke depannya.