Pencarian

7 Kata dan Logat Unik Khas Maluku Utara yang Wajib Diketahui Wisatawan agar Tidak Salah Paham

Rabu, 08 Juli 2026 • 19:26:31 WIB
7 Kata dan Logat Unik Khas Maluku Utara yang Wajib Diketahui Wisatawan agar Tidak Salah Paham
Pedagang di Pasar Gamalama, Ternate, menggunakan partikel "bae" sebagai penegas dalam percakapan sehari-hari.

Pernah dengar orang Ternate bilang "Bae" di akhir kalimat? Atau lihat tulisan "Nonci" di papan toko? Buat warga lokal, itu biasa. Tapi buat perantau atau wisatawan yang baru pertama kali menginjakkan kaki di Maluku Utara, ekspresi dan kosakata ini bisa jadi teka-teki.

Bahasa Melayu Maluku Utara bukan sekadar dialek. Ia menyimpan sejarah dagang rempah, percampuran budaya Portugis dan Ternate, serta cara berpikir masyarakat pesisir yang lugas. Berikut tujuh kata dan logat yang paling sering muncul.

1. "Bae" – Partikel Penegas yang Mirip "Kok"

"Bae" bukan panggilan sayang. Partikel ini diletakkan di akhir kalimat sebagai penegas. Fungsinya mirip "kok" dalam bahasa Betawi atau "lho" dalam bahasa Jawa.

Contoh: "Dia sudah pulang bae." Artinya: "Dia sudah pulang, lho." Atau "Jangan bae" berarti "Jangan dong."

Di pasar Gamalama, Ternate, kamu bakal sering dengar pedagang bilang: "Murah bae ini, sayang." Jangan kaget, itu cuma cara mereka meyakinkan pembeli.

2. "Nonci" – Bukan Nama Orang, Tapi Nama Toko

Jalan-jalan di pusat Kota Ternate, kamu akan lihat papan bertuliskan "Nonci" di beberapa toko kelontong. Kata ini serapan dari bahasa Portugis lonja yang berarti toko atau gudang kecil.

Di Tidore dan Sofifi, istilah yang sama dipakai. Bedanya, "nonci" lebih merujuk ke warung kecil yang menjual kebutuhan pokok, bukan supermarket besar. Kalau ada teman lokal bilang "Nanti mampir ke nonci dulu," artinya mereka mau beli beras atau gula di warung dekat rumah.

3. "Sio" – Panggilan Akrab Seperti "Bro"

"Sio" adalah panggilan untuk laki-laki yang sudah akrab. Bisa dipakai ke teman sebaya, adik, atau keponakan. Untuk perempuan, padanannya adalah "Nona" atau "Tete".

Di pelabuhan atau ojek, kamu bakal dengar: "Sio, antar ke Benteng Tolukko berapa?" Atau "Sio, jangan mara bae." Kata "mara" di sini berarti marah. Jadi kalimat itu artinya: "Bro, jangan marah dong."

4. "Mara" – Marah, Tapi Lebih Santai

"Mara" berarti marah atau kesal. Tapi penggunaannya lebih ringan dari kata "marah" dalam bahasa Indonesia. Orang Malut bilang "mara" untuk situasi kesal sehari-hari, bukan amarah besar.

Contoh: "Jangan mara bae, saya cuma bercanda." Atau "Dia mara so, gara-gara motornya mogok." Kata "so" di sini berarti "sudah" — ciri khas logat lain yang akan kita bahas.

5. "So" – Kata Serbaguna untuk "Sudah"

"So" adalah versi pendek dari "sudah". Fungsinya sangat luas: penanda waktu lampau, kata selesai, atau penegas.

Bunyi kalimatnya jadi pendek dan cepat. "Saya so makan" artinya "Saya sudah makan." "Dia so pergi" artinya "Dia sudah pergi." "So" juga bisa dipakai sendiri sebagai jawaban: "So?" artinya "Sudah?"

Di terminal bus Kota Ternate, sopir angkot sering teriak: "So? So?" Maksudnya menanyakan apakah penumpang sudah lengkap atau siap berangkat.

6. "Torang" – Ganti "Kami" atau "Kita"

"Torang" adalah kata ganti orang pertama jamak. Mirip "kita" dalam bahasa Indonesia, tapi kadang juga dipakai untuk "kami" (eksklusif).

Di warung kopi sekitar Jalan Merdeka, Ternate, kamu akan dengar: "Torang makan dulu, nanti torang ke pantai." Artinya: "Kita makan dulu, nanti kita ke pantai."

Kata ini juga jadi penanda identitas. Orang Malut asli sering mengawali obrolan dengan "Torang orang sini..." sebagai penanda mereka warga lokal.

7. "Baku" – Awalan untuk Saling

Awalan "baku-" dalam bahasa Melayu Maluku Utara berarti saling melakukan sesuatu. Ini mirip dengan prefiks "ber-" dalam bahasa Indonesia, tapi lebih spesifik untuk aksi timbal balik.

Contoh: "Baku pukul" artinya saling pukul. "Baku hantam" artinya berkelahi. "Baku dapa" artinya saling bertemu. "Baku kasi" artinya saling memberi.

Di acara adat atau pertandingan sepak bola antar kampung di Pulau Ternate, kamu bakal dengar: "Jangan baku pukul bae, ini acara adat." Artinya: "Jangan saling pukul dong, ini acara adat."

Pertanyaan yang Sering Diajukan

Apakah bahasa di Ternate dan Tidore sama?
Secara logat, hampir sama. Tapi ada sedikit perbedaan di aksen dan beberapa kosakata. Orang Tidore cenderung bicara lebih lambat dan nada bicaranya lebih rendah daripada orang Ternate.

Kenapa banyak kata serapan Portugis di Maluku Utara?
Karena Maluku Utara, khususnya Ternate dan Tidore, adalah pusat perdagangan cengkih dan pala abad 16-17. Bangsa Portugis datang dan menetap cukup lama, meninggalkan jejak di bahasa dan budaya lokal.

Apakah wisatawan perlu belajar bahasa lokal sebelum ke Maluku Utara?
Tidak wajib. Orang Malut terbiasa dengan bahasa Indonesia. Tapi kalau kamu tahu 3-4 kata di atas, warga lokal akan lebih ramah dan terbuka. Coba ucapkan "Bae" atau "Sio" saat belanja di pasar — lihat reaksinya.

Di mana tempat terbaik mendengar logat asli Maluku Utara?
Pasar Gamalama di Ternate, Pasar Raya di Sofifi, dan pelabuhan feri Bastiong. Di tempat-tempat ini, kamu dengar percakapan alami tanpa filter.

Apakah ada kamus bahasa Melayu Maluku Utara?
Ada beberapa buku dan penelitian yang diterbitkan oleh Balai Bahasa Provinsi Maluku Utara. Tapi untuk kebutuhan praktis, bertanya langsung ke warga lokal lebih efektif daripada buku.

Bahasa adalah jendela masuk ke budaya. Satu kata "bae" atau "sio" bisa mencairkan suasana dan membuka percakapan yang lebih dalam. Kalau kamu ke Maluku Utara, jangan hanya foto benteng dan pantai. Dengarkan juga cara mereka bicara. Di situlah letak keunikan yang tidak bisa kamu dapat dari buku panduan wisata mana pun.

Bagikan

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks