Pencarian

DDMF: Transisi Energi Buka Peluang Ekonomi Rp 3,8 Triliun AS

Minggu, 11 Oktober 2026 • 13:50:31 WIB
DDMF: Transisi Energi Buka Peluang Ekonomi Rp 3,8 Triliun AS
Managing Director Development Investment DDMF M. Rachmat Kaimuddin berbicara dalam sesi Executive Interview pada BloombergNEF Forum Jakarta 2026, Senin (5/10/2026).

MALUKU UTARA — PT Danantara Development Management Fund (DDMF) menilai transisi energi dapat menjadi sumber pertumbuhan ekonomi baru bagi Indonesia, dengan potensi ekonomi hingga 3,8 triliun dolar AS sampai 2050. Peluang itu terbuka lewat pengembangan industri kendaraan listrik, baterai, dan pengolahan mineral, asalkan didukung investasi jangka panjang serta penguatan industri dalam negeri.

Managing Director Development Investment DDMF M. Rachmat Kaimuddin menyatakan transisi energi bukan sekadar agenda pengurangan emisi karbon. Perubahan sistem energi, kata dia, bisa dipakai untuk mengurangi ketergantungan impor, memperkuat ketahanan energi, dan menaikkan nilai tambah produk industri nasional.

"Transisi energi bagi Indonesia bukanlah tujuan akhir, melainkan peluang untuk mencapai kemakmuran dan memperkuat ketahanan energi nasional," ujar Rachmat dalam keterangannya, Ahad (11/10/2026).

Pernyataan itu disampaikan Rachmat dalam sesi Executive Interview: How Does the Energy Transition Help Indonesia Escape the Middle Income Trap? pada BloombergNEF Forum Jakarta 2026, Senin (5/10/2026).

Hilirisasi Jadi Pintu Masuk Investasi

Data Kementerian Investasi dan Hilirisasi/BKPM mencatat realisasi investasi hilirisasi sepanjang 2025 mencapai Rp584,1 triliun. Angka itu tumbuh 43,3 persen dibandingkan tahun sebelumnya, setara 30,2 persen dari total realisasi investasi nasional Rp1.931,2 triliun.

Investasi hilirisasi mencakup pengolahan mineral, baterai, kendaraan listrik, hingga manufaktur pendukung. Bagi Rachmat, Indonesia punya modal sumber daya alam dan pasar domestik yang besar untuk menggarap industri energi bersih.

Namun, potensi itu butuh kapasitas produksi, kemampuan teknologi, dan rantai pasok domestik. Tanpa itu, manfaat ekonomi hanya berhenti di penjualan bahan mentah.

Listrik Jadi Penentu Kendaraan Listrik

Elektrifikasi transportasi dinilai bisa memangkas ketergantungan pada bahan bakar fosil impor. Tapi ada syarat yang harus dipenuhi lebih dulu: kesiapan pembangkit dan jaringan listrik untuk menanggung permintaan energi yang naik.

Pemerintah lewat Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2025–2034 menargetkan penambahan kapasitas pembangkit 69,5 gigawatt (GW). Sebanyak 52,9 GW atau 76 persen di antaranya berasal dari energi baru dan terbarukan serta sistem penyimpanan energi, dengan peluang investasi sekitar Rp2.133,7 triliun.

Soal Modal, Bukan Sekadar Ketersediaan

Kebutuhan pembiayaan sebesar itu menjadi tantangan tersendiri. Proyek energi dan hilirisasi tidak cukup hanya punya modal, tetapi juga perencanaan dan struktur pembiayaan yang menarik investor serta memberi kepastian jangka panjang.

Di titik inilah DDMF menyiapkan dukungan investasi untuk proyek strategis yang berkaitan dengan ketahanan nasional, infrastruktur esensial, serta hilirisasi dan industrialisasi. Lembaga ini juga berperan menyiapkan proyek agar memenuhi syarat investasi dan bisa menggandeng modal swasta.

"Persoalannya bukan semata-mata ketersediaan modal, melainkan bagaimana menyiapkan proyek yang layak investasi," kata Rachmat.

Menurut dia, DDMF akan berperan dalam pengembangan dan penyiapan proyek strategis, sekaligus ikut menempatkan modal. Langkah itu diharapkan memberi keyakinan kepada mitra investasi untuk bersama mendukung pembangunan nasional.

BloombergNEF melalui Indonesia Transition Factbook 2025 memperkirakan transformasi menuju ekonomi emisi nol bersih membuka peluang ekonomi 3,8 triliun dolar AS hingga 2050. Rachmat menekankan keterkaitan antara transisi energi, hilirisasi, dan investasi perlu diperkuat agar industrialisasi menaikkan produktivitas dan mendukung target Indonesia menjadi negara berpendapatan tinggi pada 2045.

Follow lensaternate.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: ekonomi.republika.co.id

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks