MALUKU UTARA — Esports tidak lagi sekadar kompetisi antar pemain profesional. Bukti terbaru muncul dari gelaran Hari Bhakti Postel ke-81 di Rasuna Epicentrum, Kuningan, Jakarta, Jumat (4/9), saat turnamen Mobile Legends untuk pertama kalinya masuk dalam agenda resmi acara tersebut.
Asosiasi Penyelenggara Infrastruktur Menara Telekomunikasi (ASPIMTEL) menggandeng Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) serta Indonesia Esports Association (IESPA) untuk menyelenggarakan kompetisi antar perusahaan. Sebanyak 24 tim yang masing-masing beranggotakan lima pemain bertanding mewakili institusi mereka masing-masing.
Industri Game Indonesia Tembus Rp32 Triliun
Masuknya esports ke acara kenegaraan ini berbarengan dengan melonjaknya nilai ekonomi industri game nasional. Data 2025 mencatat valuasi industri game Indonesia telah mencapai Rp32 triliun. Proyeksi dari PwC bahkan menyebut pasar esports dalam negeri berpotensi menyentuh USD2,4 miliar pada 2029.
Sekretaris Direktorat Jenderal Ekosistem Digital Komdigi, Aryo Pamoragung, menegaskan bahwa game bukan lagi aktivitas pinggiran. Ia menyebut industri ini telah menjadi pilar ekosistem ekonomi digital yang layak diperhitungkan.
"Industri game itu bukan lagi sekadar permainan sebelah mata, ini adalah industri yang sangat besar, dan bagian dari ekosistem digital," ujarnya usai pembukaan turnamen di Jakarta, Jumat (4/9).
Konektivitas Jadi Tulang Punggung Esports
Turnamen ini sekaligus menjadi ajang sinergi antara penyedia infrastruktur telekomunikasi dengan komunitas esports. Aryo menambahkan bahwa perkembangan kompetisi game bergantung penuh pada kualitas konektivitas digital, sebuah bidang yang menjadi fokus utama para peserta dari sektor ICT.
PT Telkom Infra Indonesia keluar sebagai juara pada kompetisi perdana yang digelar dalam rangkaian Hari Bhakti Postel ini.
Karir di Ekosistem Esports Tak Melulu Jadi Pro Player
Ketua Umum Pengurus Nasional IESPA, Ibnu Sulistyo Riza Pradipto, mengingatkan bahwa peluang ekonomi dari esports jauh lebih luas dari sekadar profesi pemain profesional. Dengan jumlah 68 juta gamer aktif di Indonesia, ia menilai ekosistem ini akan menjadi salah satu sumber lapangan kerja masa depan.
"Esports mendapatkan pengguna 68 juta gamers aktif, ini adalah future work, ini adalah masa depan ekonomi Indonesia," tegas Ibnu.
Menurutnya, kebutuhan industri mencakup banyak peran pendukung seperti event organizer, manajer tim, wasit, hingga caster atau komentator pertandingan. Para pemenang turnamen ini dijanjikan kesempatan bermain bersama pemain profesional dan anggota Timnas Mobile Legends Indonesia.
Aryo berharap ajang ini memantik lahirnya kreator dan pengembang gim lokal agar nilai pasar yang besar tidak hanya dinikmati pengembang asing. "Indonesia bisa mengambil manfaat ekonomi di situ," pungkasnya.