MALUKU UTARA — Direktorat Jenderal Minyak dan Gas Bumi (Ditjen Migas) Kementerian ESDM menyatakan telah merampungkan identifikasi lapangan terkait gangguan distribusi bahan bakar minyak yang memicu antrean kendaraan di berbagai wilayah. Dirjen Migas Laode Sulaiman mengungkapkan, pihaknya kini tengah mengkaji solusi teknis untuk memulihkan pasokan sekaligus memangkas antrean konsumen di stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU).
"Dari sisi kami sudah melakukan identifikasi penyebab. Memang setelah kita lakukan identifikasi penyebab ini, masih diperlukan kajian-kajian tambahan dan mitigasi lanjut untuk melakukan proses pemulihannya. Ada empat penyebab utama terjadinya kelangkaan," ujar Laode dalam Rapat Dengar Pendapat dengan Komisi XII DPR, Sabtu (29/8).
Isu Harga dan Aksi Borong Massal Jadi Pemicu Pertama
Faktor paling awal yang memicu kekosongan stok di SPBU adalah merebaknya spekulasi soal penyesuaian harga BBM di ruang publik. Informasi yang belum tentu akurat ini memicu aksi panic buying secara serentak oleh masyarakat, sehingga volume BBM di lokasi penyalur terkuras jauh lebih cepat dari perkiraan normal.
"Yang pertama adalah adanya isu BBM tertentu atau isu harga sehingga menyebabkan panic buying. Pada saat panic buying ini masyarakat membeli secara bersamaan, terjadilah kelangkaan dan antrean," kata Laode.
Cuaca Ekstrem dan Bencana Alam Memutus Jalur Distribusi
Faktor kedua yang tak kalah krusial adalah gangguan cuaca ekstrem. Tingginya gelombang laut membuat kapal tanker pengangkut BBM yang telah tiba di pelabuhan tujuan terpaksa mengapung dan tidak bisa merapat untuk melakukan bongkar muat. Kondisi serupa juga dialami moda angkutan sungai yang pergerakannya terhambat.
"Cuaca ini menyebabkan terlambatnya proses pengiriman, baik laut maupun sungai. Bahkan ketika kapalnya pun sudah tiba di laut, tidak bisa melakukan bongkar muat karena memerlukan cuaca yang tenang baru kapal bisa merapat," terangnya.
Selain cuaca, bencana alam seperti kebakaran hutan dan lahan (karhutla) serta tanah longsor ikut memperlambat pergerakan armada tangki dari depo migas utama menuju lembaga penyalur. Kondisi darurat ini secara otomatis memutus ketersambungan akses transportasi darat dan memicu penumpukan antrean di SPBU.
Penyalahgunaan BBM Subsidi dan Surutnya Sungai di Kalimantan
Pemerintah bersama penegak hukum juga terus menindak penyalahgunaan BBM bersubsidi oleh oknum tidak bertanggung jawab. Kementerian ESDM tengah mengkaji ulang kriteria konsumen penerima kompensasi subsidi agar alokasi kuota tidak jebol di lapangan.
"Ini sedang kami kaji lebih lanjut, terutama melihat dari sisi siapa yang sebetulnya berhak mendapat BBM subsidi," tegas Laode.
Secara terpisah, Ditjen Migas mengonfirmasi penyebab spesifik tersendatnya penyaluran BBM di Kalimantan. Penyusutan debit air sungai akibat musim kemarau menjadi penghalang utama karena kapal pengangkut berisiko kandas dan tidak dapat melintas. Padahal, geografis wilayah tersebut sangat bergantung pada alur transportasi perairan untuk mengangkut BBM dari depo utama menuju pedalaman.
"Di sisi sungai, tadi di Kalimantan, ini banyak terjadi karena proses distribusi BBM dilakukan melalui angkutan-angkutan sungai. Dan pada saat ini sungai mengalami kondisi surut, sehingga kapal-kapal yang biasanya mengirimkan BBM terkendala," kata Laode.
Langkah Tanggap Darurat: Perbanyak Armada Truk Darat
Sebagai langkah tanggap darurat, Kementerian ESDM bersama PT Pertamina (Persero) mengalihkan rute pengiriman melalui jalur darat. Pemerintah memperbanyak pengerahan mobil tangki untuk menerobos kawasan pedalaman yang terdampak surutnya alur sungai, khususnya di wilayah Kalimantan.
"Hal ini memang telah dimitigasi dengan memperbanyak truk-truk pengiriman lewat darat," pungkas Laode. Koordinasi intensif dengan BPH Migas terus dilakukan untuk mengelaborasi langkah-langkah pengurangan antrean BBM dan LPG di seluruh pelosok tanah air.