Pencarian

Rakernas JKPI di Ternate Jadi Momentum Hidupkan Benteng Bersejarah sebagai Ruang Publik

Kamis, 27 Agustus 2026 • 10:43:01 WIB
Rakernas JKPI di Ternate Jadi Momentum Hidupkan Benteng Bersejarah sebagai Ruang Publik
Rakernis JKPI di Ternate diharapkan mendorong kebijakan tata ruang yang menghidupkan benteng bersejarah sebagai ruang publik.

TERNATEKota Ternate tengah berada di persimpangan antara deru modernisasi dan bisikan masa lalu yang kuat. Di tengah gempuran pembangunan fisik, sejumlah benteng bersejarah dan kawasan pusaka dinilai berisiko menjadi struktur mati jika tidak diintegrasikan dengan kehidupan warga sehari-hari.

Gagasan ini mengemuka di tengah penyelenggaraan Rakernas Jaringan Kota Pusaka Indonesia (JKPI) yang berlangsung di Ternate. Forum tersebut diharapkan tidak berhenti pada seremoni belaka, melainkan menjadi pendorong lahirnya kebijakan tata ruang yang berkarakter.

Benteng Tua yang Butuh Napas Kehidupan

Benteng Toloko, Oranje, Kastela, Kota Janji, hingga Kalamata selama ini lebih banyak dipandang sebagai objek wisata pasif. Padahal, kawasan cagar budaya tersebut memiliki potensi besar untuk dihidupkan sebagai pusat aktivitas anak muda, ruang pertunjukan seni, hingga laboratorium edukasi sejarah di ruang publik.

Jika dikelola dengan baik, sejarah tidak lagi sekadar benda yang dilihat, melainkan pengalaman yang dihidupkan bersama oleh masyarakat dan pengunjung.

Arsitektur Kota Harus Berdialog dengan Alam dan Sejarah

Perencanaan tata ruang Ternate ke depan dinilai perlu lebih sensitif terhadap nilai-nilai historis. Perlindungan kawasan pesisir, penghormatan terhadap zona Kesultanan, serta kelestarian lereng Gunung Gamalama merupakan wujud nyata penghormatan terhadap identitas kota.

Tanpa perencanaan yang peka terhadap sejarah, Ternate berisiko tumbuh menjadi kota seragam yang kehilangan karakter dan menjauh dari tata nilai budaya lokal.

Generasi Muda Kunci Keberlanjutan Narasi Sejarah

Kisah diplomasi raja-raja Ternate, kejayaan navigasi samudera, hingga kearifan lokal perlu diterjemahkan ulang oleh generasi baru. Media digital, industri kreatif, dan karya seni modern menjadi saluran yang relevan untuk memastikan narasi masa lalu tidak berhenti pada arsip atau penuturan sesepuh.

Sejarah harus terus diceritakan dan ditafsirkan agar tetap hidup di tengah perubahan zaman.

Bagi Ternate, pilihan antara modernisasi dan pelestarian sejarah sejatinya bukan sebuah dikotomi. Keduanya dapat berjalan beriringan ketika pembangunan memiliki kesadaran terhadap identitas. Kota rempah ini memiliki peluang untuk membuktikan bahwa warisan sejarah adalah modal kekuatan, bukan beban pembangunan.

Follow lensaternate.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: halmaherapost.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks