TERNATE — Kota Ternate tengah berada di persimpangan antara deru modernisasi dan bisikan masa lalu yang kuat. Di tengah gempuran pembangunan fisik, sejumlah benteng bersejarah dan kawasan pusaka dinilai berisiko menjadi struktur mati jika tidak diintegrasikan dengan kehidupan warga sehari-hari.
Gagasan ini mengemuka di tengah penyelenggaraan Rakernas Jaringan Kota Pusaka Indonesia (JKPI) yang berlangsung di Ternate. Forum tersebut diharapkan tidak berhenti pada seremoni belaka, melainkan menjadi pendorong lahirnya kebijakan tata ruang yang berkarakter.
Benteng Tua yang Butuh Napas Kehidupan
Benteng Toloko, Oranje, Kastela, Kota Janji, hingga Kalamata selama ini lebih banyak dipandang sebagai objek wisata pasif. Padahal, kawasan cagar budaya tersebut memiliki potensi besar untuk dihidupkan sebagai pusat aktivitas anak muda, ruang pertunjukan seni, hingga laboratorium edukasi sejarah di ruang publik.
Jika dikelola dengan baik, sejarah tidak lagi sekadar benda yang dilihat, melainkan pengalaman yang dihidupkan bersama oleh masyarakat dan pengunjung.
Arsitektur Kota Harus Berdialog dengan Alam dan Sejarah
Perencanaan tata ruang Ternate ke depan dinilai perlu lebih sensitif terhadap nilai-nilai historis. Perlindungan kawasan pesisir, penghormatan terhadap zona Kesultanan, serta kelestarian lereng Gunung Gamalama merupakan wujud nyata penghormatan terhadap identitas kota.
Tanpa perencanaan yang peka terhadap sejarah, Ternate berisiko tumbuh menjadi kota seragam yang kehilangan karakter dan menjauh dari tata nilai budaya lokal.
Generasi Muda Kunci Keberlanjutan Narasi Sejarah
Kisah diplomasi raja-raja Ternate, kejayaan navigasi samudera, hingga kearifan lokal perlu diterjemahkan ulang oleh generasi baru. Media digital, industri kreatif, dan karya seni modern menjadi saluran yang relevan untuk memastikan narasi masa lalu tidak berhenti pada arsip atau penuturan sesepuh.
Sejarah harus terus diceritakan dan ditafsirkan agar tetap hidup di tengah perubahan zaman.
Bagi Ternate, pilihan antara modernisasi dan pelestarian sejarah sejatinya bukan sebuah dikotomi. Keduanya dapat berjalan beriringan ketika pembangunan memiliki kesadaran terhadap identitas. Kota rempah ini memiliki peluang untuk membuktikan bahwa warisan sejarah adalah modal kekuatan, bukan beban pembangunan.