Pencarian

Protes MTQ di Basement Masjid Raya Sofifi, Warga Maluku Utara Pertanyakan Marwah Daerah

Selasa, 23 Juni 2026 • 17:22:31 WIB
Protes MTQ di Basement Masjid Raya Sofifi, Warga Maluku Utara Pertanyakan Marwah Daerah
Warga Maluku Utara menggelar protes terkait pelaksanaan MTQ di basement Masjid Raya Sofifi.

SOFIFI — Perdebatan publik memanas di Maluku Utara setelah event Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) tingkat provinsi direncanakan berlangsung di basement Masjid Raya Shaful Khaerat. Keputusan ini dinilai tidak mencerminkan marwah daerah yang memiliki kultur Islam kental sejak era kesultanan.

Protes datang dari warga biasa, aktivis Islam, hingga tokoh agama. Anggota DPRD Provinsi Maluku Utara dari Partai Gerindra juga ikut menyuarakan keberatan.

Syiar Agama di Ruang Tertutup

Anwar Husen, Pemerhati Sosial sekaligus Dewan Pakar KAHMI Maluku Utara, menyebut peristiwa ini sebagai ironi. Ia mengutip metafora populer dari tokoh senior Partai Golkar dan pejuang Provinsi Maluku Utara, Hamid Usman: "Bersembunyi di lapangan terbuka."

"Hari ini ada sejarah baru. Kita tak salah. Kita hanya mungkin keliru memilih waktu dan tempat untuk 'hadir': Kapan di lapangan terbuka dan kapan di basement masjid," tulis Anwar dalam analisisnya.

Argumen Protes: Syiar hingga Minim Publikasi

Banyak argumen yang melatari protes itu. Mulai dari alasan syiar, pelaksanaan yang terkesan setengah hati, minim publikasi, hingga perbandingan dengan kegiatan seremoni berbiaya besar lainnya.

Fungsi utama MTQ adalah sebagai sarana syiar Islam dan upaya konkret umat untuk menggali, memahami, serta mengamalkan nilai-nilai luhur Al-Qur'an. Namun, publik menilai tempat pelaksanaan tidak mencerminkan keseriusan pemerintah daerah terhadap agenda keagamaan ini.

Marwah Daerah dan Legasi Mantan Gubernur

Maluku Utara adalah wilayah yang sejak dulu, karena latar kesultanan, punya kultur Islam yang sangat kental. Membandingkan reaksi publik atas MTQ tingkat provinsi yang berasa kecamatan, menurut Anwar, setara dengan membayangkan reaksi serupa masyarakat Aceh.

"Di segmen masyarakat tertentu, gengsinya ada di sini. Punya satu anggota keluarga yang pernah jadi peserta MTQ, itu sudah luar biasa. Apalagi jadi juara," tulisnya.

Anwar juga menyoroti legasi mantan Gubernur KH Abdul Gani Kasuba. Membangun masjid raya yang megah di pusat ibu kota provinsi dan "meresmikan"-nya dengan menggelar STQ di tengah "belantara" dan kondisi serba berkekurangan, dinilai sebagai langkah pemimpin yang memahami akar kultural-religius daerah.

Kultur Islam dan Memori Indah MTQ

Kultur Islam yang terbangun sejak awal di Maluku Utara, dan sejak pertama kali event MTQ digelar secara resmi dan berjenjang, harmoni itu selalu mesra. Banyak qari dan qariah daerah ini telah mengukir marwah daerah hingga ke panggung internasional.

"Suka atau tidak. Yang pasti, fakta Sofifi saat ini, masih berharap sangat banyak orang untuk bisa datang dengan membawa dompet. Dan event MTQ adalah etalasenya," pungkas Anwar. (*)

Bagikan
Sumber: tandaseru.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks