MALUKU UTARA — Industri game global belakangan dihantam gelombang PHK dan penutupan studio di tengah melonjaknya biaya produksi serta obsesi pada generative AI. Di tengah situasi itu, pernyataan Adams menjadi penanda kegelisahan para developer senior yang melihat arah industri makin tidak sehat.
CEO yang Ingin Menekan Tombol untuk Bikin Game
Adams mencontohkan pola pikir manajemen yang keliru: "Mereka mencoba membuat seorang CEO menekan tombol untuk menghasilkan game, dan semua orang membelinya tanpa bekerja. Saya tidak melihat itu berkelanjutan—pasti ada ledakan dan hukuman, kecuali ada yang bertindak beda."
Kritik itu disampaikan Adams saat sesi wawancara dengan PC Gamer di ajang Gamescom 2026. Ia menilai pendekatan tersebut tidak realistis dan justru mempercepat kehancuran.
Psikosis Bos dan Kesalahpahaman Terhadap Kerja Kreatif
Adams juga menyoroti sikap para atasan yang mulai kehilangan akal sehat: "Semua orang yang saya kenal, bos mereka perlahan mengalami psikosis. Mereka bertanya, 'kamu sudah pakai AI untuk commit kode?' Lalu bilang, 'saya tidak puas dengan karyawan ini, mungkin mesin bisa menggantikannya'."
Ia mengibaratkan situasi tersebut seperti lagu Dead Kennedys—kebodohan yang berulang. Adams menceritakan ayahnya yang di-PHK dari instalasi pengolahan limbah karena manajemen tidak paham pekerjaannya sebagai ahli komputer. "Perusahaan itu akhirnya bangkrut—hal yang sama terjadi lagi sekarang," katanya.
AI Tak Pernah Menggantikan Kualitas
Bagi Adams, masalah terbesar bukan pada teknologi AI itu sendiri, melainkan kesalahan persepsi eksekutif yang menganggap output AI setara dengan karya manusia. "Mereka melihat hasil yang meniru, tapi tidak paham kualitas aslinya," ujarnya. Ia juga menyindir istilah "dwarf AI" di games—menurutnya itu tidak ada, yang ada adalah "perilaku dwarf" yang sering berulah.
Adams pun menegaskan bahwa kesalahan manajemen seperti ini bukan hal baru—telah terjadi jauh sebelum AI populer. Namun, kehadiran generative AI memperparah karena memberi ilusi bahwa proses kreatif bisa direplikasi massal.
Apa Dampaknya bagi Gamer dan Developer Indonesia?
Bagi komunitas game Tanah Air, pernyataan Adams relevan mengingat industri esports dan pengembangan game lokal juga mulai terjangkit tren serupa—terutama penggunaan AI untuk mempercepat produksi dengan mengorbankan kualitas.
Adams mengingatkan bahwa siklus PHK dan kebangkrutan hanya akan berulang jika manajemen tidak mau memahami kerja teknis dan kreatif. "Selama mereka masih mencari tombol ajaib, kita akan terus melihat kehancuran," pungkasnya.
Belum ada tanggapan resmi dari asosiasi pengembang game atau Kemenkominfo soal pernyataan Adams. Namun, kritik ini menjadi momentum bagi developer Indonesia untuk lebih vokal dalam menjaga standar produksi game di tengah tekanan efisiensi berbasis AI.