MALUKU UTARA — Seiring maraknya adopsi teknologi di industri F&B, kasus Picnic menjadi pukulan telak bagi narasi bahwa robot mampu menggantikan peran manusia di dapur. Dua unit robot yang dibeli Moto Pizza dari Picnic kini praktis menjadi barang mati, menyusul keputusan startup tersebut menutup bisnisnya tanpa memberikan kelanjutan layanan purna jual.
Manusia Vs Robot: Siapa yang Lebih Efisien?
Sara Senatore, senior restaurants analyst di Bank of America, menilai efisiensi manusia dalam membuat pizza masih sulit ditandingi mesin. Menurutnya, robot kerap membuat kesalahan seperti menjatuhkan bahan atau menaruh topping di posisi yang keliru.
Pernyataan ini sekaligus meredupkan optimisme pelaku industri yang selama ini menjual otomatisasi sebagai solusi mempercepat operasional dapur. Picnic bukan satu-satunya yang gagal; sejumlah nama seperti Zume, Pazzi, dan Basil Street juga telah lebih dulu meninggalkan bisnis robot pizza.
Mengapa Investasi Robot Bisa Menjadi Bom Waktu?
Kasus Moto Pizza menyoroti risiko besar yang mengintai restoran ketika memilih bergantung pada teknologi dari startup yang belum mapan. Mesin yang dibeli dengan investasi ratusan juta rupiah bisa kehilangan nilainya seketika jika vendor bangkrut.
Selain biaya pembelian awal yang tinggi, perawatan dan dukungan teknis menjadi beban operasional berkelanjutan yang tidak selalu diantisipasi. Ketika vendor menghilang, restoran tidak punya pilihan selain menanggung kerugian atau kembali ke metode manual.
Otomatisasi Cepat Belum Tentu Solusi Andal
Di sisi lain, perusahaan robot asal Asia, Appetronix, masih mengembangkan mesin yang diklaim mampu memproduksi satu pizza per menit. Mereka bahkan tengah memangkas waktu pengolesan saus dari sekitar 9,5 detik menjadi hanya 1,5 detik demi mengejar kecepatan produksi.
Namun, kecepatan semata tidak menjamin kesuksesan jika akurasi dan reliabilitas mesin masih dipertanyakan. Kegagalan Picnic dan pendahulunya menjadi pengingat bahwa pekerjaan yang membutuhkan kepekaan dan penilaian, seperti memasak, belum tentu lebih baik bila diserahkan penuh kepada mesin.
Fenomena ini memicu diskusi mengenai batas ideal otomatisasi. Robot mungkin lebih masuk akal ditempatkan pada pekerjaan berisiko tinggi di lingkungan industri, sementara keterampilan manusia tetap menjadi elemen krusial yang sulit digantikan di sektor kuliner.