HALBAR — Staf Ahli Gubernur Maluku Utara Bidang Hukum dan Pemerintahan, Fachrudin Tuguboya, menyatakan bahwa penggabungan SLCN dan SLG menjadi momentum penting. “Yang menjadi kata kunci adalah efektif dan berdampak lebih luas,” ujarnya saat membuka kegiatan di Aula Bidadari Kantor Bupati Halmahera Barat, Selasa pekan lalu.
Mengapa Sekolah Cuaca dan Gempa Digabung?
Selama ini, dua sekolah lapang tersebut kerap dilaksanakan secara terpisah dengan sasaran peserta yang berbeda. Fachrudin menjelaskan, pemaduan ini bertujuan agar nelayan sekaligus masyarakat pesisir mendapatkan pemahaman utuh tentang cuaca, keselamatan di laut, serta potensi gempa bumi dan tsunami dalam satu forum.
Kondisi geografis Maluku Utara yang dikelilingi laut dan memiliki banyak gunung api disebut menjadi alasan utama. “Laut adalah tempat kita mencari rezeki, laut adalah jalan kita dalam bersilaturahmi, tetapi di laut juga ada tantangan,” kata Fachrudin.
Kearifan Lokal Sahu: Gunung Jailolo Jadi Penanda Ombak
Dalam kesempatan itu, Fachrudin mencontohkan pengetahuan tradisional masyarakat Sahu yang masih relevan. Sejak kecil, ia diajari leluhurnya bahwa kondisi visual Gunung Jailolo bisa menjadi tanda kondisi laut.
“Kalau Gunung Jailolo ujungnya clear, tidak ada awan, berarti tidak ada ombak. Tapi begitu tertutup awan, pasti ada ombak,” ungkapnya.
Pengetahuan semacam ini, menurut Fachrudin, harus dikolaborasikan dengan informasi dan teknologi modern agar menjadi bagian dari sistem mitigasi yang lebih kuat. Ia menekankan, kearifan lokal tidak boleh hilang di tengah perkembangan zaman.
Kesiapsiagaan Bukan Hanya Tugas Pemerintah
Fachrudin mengajak seluruh masyarakat untuk terus membangun kesadaran menghadapi bencana. Menurutnya, kesuburan tanah Halmahera yang berasal dari aktivitas vulkanik juga menyimpan potensi ancaman yang perlu diwaspadai.
Melalui SLCN dan SLG, ia berharap masyarakat semakin paham membaca informasi cuaca, mengenali potensi bahaya di laut, serta mengetahui langkah-langkah evakuasi saat gempa dan tsunami. “Kesiapsiagaan adalah tanggung jawab bersama,” tegasnya.
Pemprov Malut menargetkan program serupa dapat diperluas ke kabupaten/kota lain di provinsi tersebut, dengan tetap mengedepankan perpaduan antara ilmu pengetahuan dan kearifan lokal setempat.