Pencarian

Insentif Mobil Listrik China Habis Awal 2026, Penjualan BYD Langsung Anjlok 22 Persen

Kamis, 09 Juli 2026 • 03:19:31 WIB
Insentif Mobil Listrik China Habis Awal 2026, Penjualan BYD Langsung Anjlok 22 Persen
Penjualan BYD di China turun 22 persen setelah insentif mobil listrik dicabut pada awal 2026.

MALUKU UTARA — Kebijakan bebas pajak yang selama ini menjadi tulang punggung booming mobil listrik di China sudah tidak berlaku lagi sejak Januari 2026. Dampaknya langsung terasa: penjualan bulanan BYD merosot drastis, dari sebelumnya tumbuh dua digit menjadi terkontraksi 22 persen year-on-year pada Mei lalu. Ini menjadi sinyal paling keras bahwa pasar NEV China mulai kehilangan momentum.

Insentif Habis, Harga BEV dan PHEV Melonjak

Selama ini, hampir semua mobil listrik murni (BEV), plug-in hybrid (PHEV), dan varian extended-range (EREV) menikmati pembebasan pajak pembelian. Namun mulai 2026, insentif tersebut resmi dicabut. Rencananya, mulai 2027 mendatang, mobil PHEV dan kendaraan komersial listrik juga tidak lagi mendapat keringanan pajak.

Konsekuensinya langsung membebani kantong konsumen. Harga jual BEV dan PHEV di dealer naik signifikan karena pajak kini harus ditanggung pembeli. Bagi segmen menengah ke bawah yang sensitif harga, kenaikan ini cukup membuat mereka berpikir ulang untuk beralih ke mobil listrik.

BYD Genjot Ekspor Demi Selamatkan Penjualan Global

Menghadapi tekanan di kandang sendiri, BYD mulai agresif melebarkan sayap ke luar negeri. Data Mei 2026 menunjukkan volume ekspor BYD naik cukup tajam, dan total penjualan global perusahaan justru lebih baik dibandingkan performa domestiknya. Strategi ini ditempuh untuk mengompensasi permintaan yang melamban di China.

Produsen seperti Geely, Chery, dan GAC juga melakukan hal serupa. Mereka gencar membawa model listrik andalan ke pasar Asia Tenggara, termasuk Indonesia. SUV, MPV, hingga hatchback listrik kini mulai membanjiri pameran dan dealer di Tanah Air.

Mobil Penumpang BEV Masih Kebal Pajak, Tapi Tak Cukup

Ada satu celah yang membuat situasi tidak sepenuhnya suram. Mobil penumpang BEV tidak memiliki kapasitas mesin, sehingga secara teknis tidak bisa dikenakan pajak kendaraan berbasis mesin bakar seperti PHEV. Akibatnya, model BEV tetap mendapat keringanan pajak untuk beberapa tahun ke depan, meski insentif utamanya sudah dicabut.

Namun keringanan itu belum cukup untuk mengembalikan gairah pasar. Konsumen China kini lebih memilih mobil yang lebih murah, dan banyak yang kembali ke model konvensional atau PHEV yang harganya lebih terjangkau pasca-insentif. Produsen pun mulai merilis model baru, memberikan diskon besar-besaran, atau menyegarkan lini produk demi menarik pembeli.

Apa Dampaknya ke Pasar Indonesia?

Penurunan penjualan di China justru bisa menjadi peluang bagi konsumen Indonesia. Dengan ekspor yang terus meningkat, BYD dan pabrikan China lainnya kemungkinan akan menawarkan harga lebih kompetitif di pasar global, termasuk Indonesia. Model-model seperti BYD Atto 3, Dolphin, dan Seal sudah mulai terlihat di jalanan Jakarta dan sekitarnya.

Namun perlu dicatat, kendaraan komersial listrik dan FCEV di China mulai 2027 tidak lagi mendapat bebas pajak. Artinya, bus listrik dan truk listrik buatan China bisa ikut terimbas harganya. Untuk pasar Indonesia yang masih mengimpor mayoritas unit, perubahan kebijakan di China ini patut dipantau dalam jangka menengah.

Bagikan
Sumber: ridertua.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks