Pencarian

Butuh 4 Juta KL Bioetanol per Tahun, Menteri Bahlil Ajak Kampus Garap Program E20 dan Kompor Listrik

Senin, 29 Juni 2026 • 19:34:31 WIB
Butuh 4 Juta KL Bioetanol per Tahun, Menteri Bahlil Ajak Kampus Garap Program E20 dan Kompor Listrik
Menteri Bahlil mengajak perguruan tinggi berkolaborasi dalam program E20 untuk mengurangi impor energi.

MALUKU UTARA — Kebutuhan bioetanol murni untuk merealisasikan program E20—campuran bensin dengan 20 persen etanol—mencapai 4 juta kiloliter per tahun. Angka itu dihitung dari total konsumsi bensin domestik yang saat ini berada di kisaran 40 juta kiloliter per tahun.

Untuk memenuhi volume sebesar itu, Bahlil meminta perguruan tinggi mengoptimalkan riset pengolahan komoditas lokal seperti tebu, singkong, dan jagung. Menurutnya, kampus tidak perlu khawatir soal pemasaran karena negara akan membeli hasil produksi.

"Saya mengajak pihak-pihak perguruan tinggi bersama berkolaborasi pada Program E20, negara yang akan menjadi off-taker untuk beli. Jadi ini bisa kita bikin plasma inti dengan rakyat, ini jauh lebih jelas off-taker-nya negara daripada kita impor dari Amerika atau Eropa," kata Bahlil dalam keterangan akhir pekan lalu.

Skema Kemitraan dan Peran Riset Kampus

Dalam skema yang ditawarkan, pemerintah mendorong pola kemitraan antara korporasi inti dan plasma rakyat. Perguruan tinggi diharapkan menjadi jembatan antara hasil riset laboratorium dengan penerapan di skala industri nasional.

Bahlil mencontohkan, jika ada kampus yang mampu mengembangkan teknologi pengolahan singkong menjadi etanol secara efisien, hasil riset itu bisa langsung diuji coba dalam skema plasma. Negara menjamin pembelian, sehingga risiko pasar bagi petani dan akademisi bisa ditekan.

Program E20 sendiri merupakan bagian dari upaya mengurangi ketergantungan pada impor energi. Dengan memanfaatkan bahan baku dalam negeri, pemerintah ingin menekan belanja devisa yang selama ini mengalir keluar untuk membeli BBM dari luar negeri.

Anggaran Rp600 Miliar untuk Kompor Listrik

Selain di sektor bahan bakar, kontribusi perguruan tinggi juga diminta untuk program bauran energi baru melalui percepatan penggunaan kompor alternatif. Tahun 2027, Kementerian ESDM mengalokasikan anggaran Rp600 miliar untuk pengadaan kompor listrik.

"Kampus siapa yang mau bikin langsung akan kita pesan pengadaannya di kampus itu saja," ujar Bahlil.

Program ini juga mencakup pemanfaatan compressed natural gas (CNG) dan jaringan gas (jargas) rumah tangga. Pemerintah ingin mengintegrasikan berbagai sumber energi alternatif agar ketergantungan pada elpiji impor bisa dikurangi secara bertahap.

Baik program E20 maupun pengadaan kompor listrik merupakan dua program strategis nasional yang dirancang secara terintegrasi. Selain menyelamatkan devisa, program ini diharapkan menciptakan ekosistem industri baru yang melibatkan petani, pengusaha, dan akademisi.

Follow lensaternate.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: dunia-energi.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks