BI dan Pemprov Malut Dorong 195 Ribu UMKM Go Digital Lewat Program SERUMBI 2026

Penulis: Jamal Nasution  •  Senin, 11 Mei 2026 | 20:08:01 WIB
Bank Indonesia dan Pemprov Malut meluncurkan program SERUMBI 2026 untuk mendigitalisasi 195 ribu UMKM.

SOFIFI — Sebanyak 195 ribu UMKM di Maluku Utara menjadi sasaran program SERUMBI 2026 yang digagas Bank Indonesia bersama Pemprov setempat. Dari jumlah itu, 95 persennya merupakan usaha mikro yang menyerap nyaris 585 ribu tenaga kerja.

Kegiatan yang berlangsung hingga 13 Mei 2026 di Aula Maitara Kantor BI Maluku Utara ini tidak sekadar seremoni. Kepala Perwakilan BI Maluku Utara Handi Susila menyebut digitalisasi sebagai solusi utama mengatasi hambatan geografis di wilayah kepulauan.

Kopi Rempah Jadi Andalan Baru

Salah satu produk yang didorong naik kelas adalah kopi rempah, yang dinilai memiliki identitas kuat sebagai ciri khas Ternate dan Maluku Utara. "Di mana-mana kalau mau membahas sesuatu, ayo kita ngopi dulu," kata Handi dalam sambutannya, Senin.

Selain kopi rempah, BI juga aktif mendampingi pengembangan wastra dan batik lokal agar mampu menembus pasar yang lebih luas. Program kurasi dan pendampingan menjadi bagian dari strategi memperkuat daya saing produk daerah.

Tiga Fokus Utama: Digital, Modal, Ekspor

Mewakili Sekda Malut, Asisten II Sri Haryanti Hatari memaparkan tiga pilar SERUMBI 2026. Pertama, perluasan akses digital melalui pelatihan pemanfaatan marketplace dan media sosial. Kedua, penguatan akses pembiayaan dengan bunga 0,01 persen.

Pemprov, kata Sri, telah menyalurkan bantuan modal Rp3 juta hingga Rp15 juta bagi UMKM riil di Sofifi dan Ternate atas arahan Gubernur Sherly Laos. Perbankan juga diminta memberikan pendampingan intensif kepada para pelaku usaha.

Ketiga, pengembangan potensi ekspor. Pemprov menargetkan produk unggulan seperti kopi rempah, hasil laut, dan kerajinan memiliki sertifikasi standar sehingga bisa dipasarkan dengan label "Made In Maluku Utara".

UMKM Jadi Fondasi Saat Tambang Habis

Meski pertumbuhan ekonomi Maluku Utara tahun 2026 mencapai 19,64 persen—tertinggi nasional—Sri mengingatkan sektor itu masih didominasi pertambangan. "Tambang ada masanya dan akan habis. Kalau sektor itu hilang, maka titik pertumbuhan ekonomi ada di pelaku UMKM," tegasnya.

Ia berpesan agar pelaku UMKM menjaga konsistensi kualitas produk, memperbaiki kemasan, dan terus memanfaatkan teknologi digital. "Digitalisasi sekarang bukan lagi pilihan, tetapi keharusan," pungkas Sri.

Reporter: Jamal Nasution
Sumber: halmaheranesia.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top