HALMAHERA UTARA — Upaya pencarian dua warga negara asing (WNA) asal Singapura yang menjadi korban erupsi Gunung Api Dukono akhirnya membuahkan hasil melalui pelacakan titik koordinat. Meski posisi keduanya telah dipastikan, tim penyelamat belum bisa menjangkau lokasi tersebut karena risiko keselamatan yang sangat tinggi di area puncak.
Kepala Kantor Pencarian dan Pertolongan (SAR) Maluku Utara, Iwan Ramadani, menyebutkan bahwa posisi para korban berada di area yang sangat riskan bagi tim penyelamat. Material vulkanik yang terus keluar dari kawah menjadi penghalang utama petugas untuk melakukan penjemputan fisik.
“Tim sudah mengetahui posisi dua korban. Namun hingga saat ini kami belum bisa melakukan evakuasi karena lokasi korban berada sekitar 20 meter dari bibir kawah,” ujar Iwan Ramadani.
Berdasarkan data otoritas setempat, kedua korban yang masih menunggu evakuasi tersebut adalah Heng Wen Qiang Timothy yang berusia 30 tahun dan Shahin Muhrez bin Abdul Hamid yang berumur 27 tahun. Keduanya dilaporkan berada di area kawah saat aktivitas vulkanik gunung api di Halmahera Utara tersebut meningkat secara tiba-tiba.
Kondisi di lapangan dilaporkan masih sangat dinamis dengan semburan material serta letupan yang dapat terjadi sewaktu-waktu. Iwan Ramadani menjelaskan bahwa intensitas erupsi yang tetap tinggi memaksa tim SAR untuk terus waspada dan memantau pergerakan aktivitas vulkanik sebelum memutuskan untuk mendekat.
Guna mempercepat proses penyelamatan saat situasi mulai kondusif, pihak SAR telah mengerahkan sedikitnya 150 personel ke kawasan Gunung Dukono. Seluruh personel tersebut dibagi ke dalam empat regu yang memiliki tugas spesifik dalam menghadapi medan ekstrem di sekitar kawah.
Saat ini, tim gabungan sedang mematangkan strategi internal sembari memantau perkembangan cuaca di sekitar puncak. Fokus utama petugas adalah memastikan keselamatan tim penyelamat tanpa mengabaikan kecepatan respons untuk membawa kedua warga Singapura tersebut ke zona aman.
Otoritas terkait terus berkoordinasi dengan pihak pemantau gunung api untuk mendapatkan data real-time mengenai penurunan aktivitas vulkanik. Harapannya, evakuasi dapat segera dilaksanakan begitu terdapat celah keamanan yang memungkinkan personel masuk ke radius berbahaya di bibir kawah.