MALUKU UTARA — Game simulasi kehidupan sekolah berjudul Agefield High: Rock the School akhirnya bisa dimainkan publik melalui Steam. Namun alih-alih disambut hangat, game yang dikembangkan oleh Refugium Games ini justru diganyang habis-habisan oleh para pemain di platform distribusi digital Valve tersebut.
Premis awalnya memang menarik. Pemain akan berperan sebagai siswa baru yang mencoba bertahan di tengah hiruk-pikuk kehidupan sekolah menengah, lengkap dengan hierarki sosial, geng, dan berbagai aktivitas khas anak sekolah. Konsep ini jelas mengingatkan banyak orang pada Bully besutan Rockstar Games yang legendaris.
Perbandingan dengan Bully ternyata menjadi bumerang bagi Agefield High. Alih-alih menawarkan pengalaman yang setara, game ini justru dinilai gagal di berbagai aspek fundamental. Banyak pemain melaporkan adanya bug parah yang merusak imersi, mulai dari karakter yang menembus objek hingga progresi misi yang tersendat.
Selain itu, desain kontrol dan antarmuka yang membingungkan juga menjadi keluhan utama. Pemain mengaku kesulitan menavigasi menu dan memahami mekanisme inti permainan, yang seharusnya menjadi daya tarik utama dari genre simulasi sekolah. Alih-alih terasa menyenangkan, eksplorasi sekolah justru terasa seperti pekerjaan rumah yang membosankan.
Hingga berita ini diturunkan, status review Agefield High di Steam berada di zona "Negatif" atau "Mixed" dengan persentase kepuasan yang sangat rendah. Para pemain yang telah menghabiskan waktu berjam-jam menyebutkan bahwa game ini terasa setengah jadi dan dirilis terlalu terburu-buru tanpa melewati tahap pengujian yang memadai.
Kritik juga ditujukan pada aspek teknis. Optimasi yang buruk membuat game ini sulit berjalan mulus bahkan di PC dengan spesifikasi menengah ke atas. Hal ini tentu menjadi catatan besar bagi Refugium Games, yang sebelumnya diharapkan bisa menghadirkan alternatif segar bagi para penggemar Bully yang sudah lama menantikan sekuel atau game sejenis.
Dengan kondisi seperti ini, masa depan Agefield High di pasar PC tampak suram. Kecuali sang developer bergerak cepat untuk merilis patch perbaikan besar-besaran, bukan tidak mungkin game ini akan semakin ditinggalkan dan terlupakan di lautan game indie lainnya di Steam.