TERNATE — Pelatihan bertema "Peningkatan Kapasitas Kelompok Tani Hutan (KTH) Ake Membangun melalui Pemasaran Digital Sumber Daya Alam Lokal" menyasar langsung anggota kelompok yang selama ini mengolah sabut kelapa menjadi cocopeat. Materi disusun agar petani hutan tidak berhenti di proses produksi, tetapi juga menguasai rantai pemasaran secara mandiri.
Peserta dibekali teknik praktis: memanfaatkan Facebook, Instagram, dan marketplace, menulis deskripsi produk yang menarik, hingga mengelola lapak di berbagai platform e-commerce.
Limbah Sabut Kelapa yang Kini Bernilai Jual
Ketua Tim Pelaksana Kegiatan, Nurfadhilah Arif, menyebut selama ini limbah sabut kelapa di Kelurahan Kulaba hanya dibiarkan terbuang di tempat terbuka atau dibakar. Sesekali sabut itu dipakai untuk keperluan dapur yang tidak seberapa.
"Sehingga muncullah ide untuk memanfaatkan sabut kelapa tersebut menjadi cocopeat," katanya.
Nurfadhilah menjelaskan, KTH Ake Membangun telah menjadi mitra kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat sejak 2025. Pada 2026, program dilanjutkan dengan fokus peningkatan kapasitas kelompok melalui pemasaran digital untuk produk cocopeat.
Akses Pasar Terbatas Jadi Kendala Utama
Ketua KTH Ake Membangun, Iwan Keiya, mengakui potensi kelapa di Kelurahan Kulaba yang dikelola kelompoknya sangat besar. Namun produksi cocopeat yang sudah berjalan belum diimbangi jangkauan pasar yang memadai.
"KTH Ake Membangun di kelurahan kami telah mengupayakan produksi cocopeat untuk memanfaatkan sabut kelapa. Namun selama ini masih terkendala akses pasar yang terbatas. Dengan adanya kegiatan ini diharapkan cocopeat ini dapat menjangkau konsumen yang lebih luas," ujar Iwan.
Pelatihan Interaktif, Peserta Antusias
Pelatihan berlangsung secara interaktif dan mendapat antusiasme tinggi dari para peserta. Anggota kelompok tidak hanya menyimak materi, tetapi juga mempraktikkan langsung pengelolaan akun dan lapak digital.
Melalui optimalisasi teknologi digital, KTH Ake Membangun optimistis dapat mendorong kemandirian ekonomi masyarakat sekitar hutan tanpa mengesampingkan prinsip kelestarian lingkungan.