MALUKU UTARA — Peresmian ini bukan seremoni belaka. Di tengah gencarnya transisi energi global, PLN NP mencoba membuktikan bahwa anak bangsa mampu merakit sendiri infrastruktur hidrogen, mulai dari mesin hingga instalasinya. Kehadiran HRS generasi ketiga ini melengkapi dua pendahulunya yang sudah beroperasi di Muara Karang (2024) dan Rembang (2025), plus varian mobile yang bisa dipindah-pindah. Bukan Sekadar Pompa Hidrogen Biasa
Sekilas, HRS ini terlihat seperti pompa bensin, hanya saja mengalirkan hidrogen ke kendaraan. Namun, di baliknya terdapat ekosistem yang terintegrasi. Stasiun ini terhubung langsung dengan Green Hydrogen Plant yang sumber energinya berasal dari PLTS dan energi terbarukan bersertifikat.
Kapasitas produksinya mencapai 7,9 ton hidrogen per tahun. Sebagian hasil produksi dipakai untuk kebutuhan internal pembangkit, sementara surplusnya siap digunakan untuk transportasi atau dikonversi balik menjadi listrik lewat teknologi fuel cell. Muara Tawar dipilih lantaran posisinya strategis sebagai salah satu pembangkit raksasa PLN NP dengan kapasitas terpasang 2.725 MW.
Direktur Utama PLN Nusantara Power, Ruly Firmansyah, menegaskan bahwa inisiatif ini adalah upaya serius menguasai teknologi sekaligus memperkuat SDM lokal. "Kita sedang meletakkan fondasi penting bagi terbentuknya ekosistem energi baru di Indonesia. Nama Merah Putih membawa semangat kemandirian dan kebanggaan nasional," ujarnya dalam keterangan resmi, Jumat (14/8). Hidrogen: Jembatan Menuju Net Zero Emission
Ruly menambahkan, keberadaan ekosistem ini ingin membuktikan bahwa hidrogen bukan sekadar wacana masa depan. "Hidrogen dapat menjadi penghubung antara pembangkitan energi bersih, penyimpanan energi, penyediaan listrik, dan mobilitas rendah emisi," kata dia.
Apresiasi datang dari Kementerian ESDM. Direktur Energi Baru Ditjen EBTKE, Senda Hurmuzan Kanam, menilai langkah PLN NP ini menunjukkan ekosistem hidrogen Indonesia mulai bergerak dari tahap pengembangan teknologi menuju implementasi nyata. "Inisiatif seperti ini penting untuk membangun pengalaman, memperkuat kapasitas dalam negeri, sekaligus membuka peluang pemanfaatan hidrogen di berbagai sektor," ujar Senda. Target Jangka Panjang dan Uji Jalan
PLN NP tidak berhenti di stasiun pengisian. Perusahaan telah membangun delapan Green Hydrogen Plant dan berbagai teknologi pemanfaatan hidrogen lainnya. Ke depan, peta jalan perusahaan mencakup produksi hidrogen hijau, infrastruktur pengisian, hingga kendaraan berbasis hidrogen.
Peresmian HRS Muara Tawar sendiri ditandai dengan simulasi pengisian hidrogen ke kendaraan dan pelepasan uji jalan mobil hidrogen-listrik. Dengan hadirnya infrastruktur ini, PLN NP berharap dapat memantik kolaborasi lintas sektor demi mempercepat target Net Zero Emission 2060, sekaligus membuktikan bahwa teknologi hijau bisa lahir dari tangan-tangan terampil dalam negeri.