Pencarian

Pangsa Pasar Kendaraan Elektrifikasi RI Tembus 38 Persen di Semester I 2026, Hybrid Jadi Primadona Baru

Sabtu, 08 Agustus 2026 • 07:28:01 WIB
Pangsa Pasar Kendaraan Elektrifikasi RI Tembus 38 Persen di Semester I 2026, Hybrid Jadi Primadona Baru
Penjualan kendaraan elektrifikasi nasional pada semester I 2026 tercatat menembus pangsa pasar 38 persen.

MALUKU UTARA — Data terbaru dari Indonesia Center for Mobilities Studies (ICMS) menunjukkan perubahan signifikan pada peta persaingan otomotif nasional. Tren pertumbuhan kendaraan elektrifikasi yang sempat didominasi Battery Electric Vehicle (BEV) kini diimbangi oleh kenaikan permintaan mobil hybrid, baik Plug-in Hybrid (PHEV) maupun Range Extender Electric Vehicle (REEV).

“Data semester I tahun 2026 menunjukkan penjualan kendaraan elektrifikasi meningkat sekitar 68 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Sementara pangsa pasarnya meningkat dari 23 persen menjadi 38 persen,” kata Munawar Chalil, Ketua Umum ICMS di sela GIIAS 2026.

Konsumen Mulai Meninggalkan Pola Pikir Satu Teknologi

Fenomena ini menarik karena tidak lagi sekadar soal harga murah. Sepanjang Januari-Desember 2025, Gaikindo mencatat penjualan mobil listrik tembus 103.931 unit secara wholesales, dengan kontribusi 12 persen terhadap total pasar. Namun memasuki 2026, pabrikan mulai agresif memasarkan lini hybrid sebagai jembatan transisi.

Josua Pardede, Pengamat Kebijakan Ekonomi Perbanas, menilai pergeseran ini sebagai tanda kedewasaan pasar. Konsumen tidak lagi terpaku pada satu jenis powertrain, melainkan memilih teknologi yang paling cocok dengan kebiasaan berkendara harian.

“Kenaikan serentak ketiga teknologi elektrifikasi (BEV, HEV dan PHEV) menunjukkan bagaimana konsumen memilih teknologi yang paling sesuai dengan kebutuhan dan pola penggunaan kendaraan tersebut secara pribadi, bukan memilih satu teknologi,” ujarnya.

REEV: Teknologi Baru yang Menggerus Dominasi BEV

Geliat terbaru justru datang dari teknologi REEV yang mulai diboyong pabrikan Cina ke Indonesia. Cara kerjanya mirip PHEV, tapi ada perbedaan fundamental: motor listrik menjadi satu-satunya penggerak roda. Mesin bensin hanya bertugas sebagai generator pengisi baterai.

Konsekuensinya, pengemudi tetap merasakan sensasi berkendara mobil listrik murni—halus dan responsif—tanpa perlu cemas mencari Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum (SPKLU) di tengah perjalanan. Ini menjawab keluhan klasik konsumen Indonesia tentang infrastruktur pengisian daya yang belum merata.

Kombinasi Powertrain Dinilai Jadi Solusi Permanen

Alih-alih saling menggantikan, kehadiran BEV, HEV, PHEV, dan REEV justru saling melengkapi. ICMS menilai perpaduan berbagai teknologi elektrifikasi ini menjadi solusi tepat untuk pasar Indonesia yang luas dan beragam kondisi geografisnya.

Bagi konsumen perkotaan dengan akses charging mudah, BEV masih menjadi pilihan efisien. Sementara untuk perjalanan antar kota atau daerah dengan infrastruktur terbatas, hybrid dan REEV menawarkan ketenangan tanpa mengorbankan efisiensi bahan bakar.

Pertumbuhan ini diperkirakan terus berlanjut hingga akhir tahun, apalagi dengan adanya dukungan insentif pemerintah dan semakin banyaknya model baru yang diluncurkan di pasar domestik. Pertanyaannya kini bukan lagi apakah elektrifikasi akan diterima, melainkan seberapa cepat teknologi hybrid akan menyalip penjualan mobil konvensional.

Follow lensaternate.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: otomotif.katadata.co.id

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks