HALMAHERA BARAT — Jejak Alfred Russel Wallace di Desa Dodinga, Halmahera Barat, kembali digali dalam rangkaian Festival Teluk Jailolo (FTJ) 2026. Ekspedisi ini mengajak puluhan peserta menyusuri lokasi-lokasi bersejarah yang pernah menjadi saksi penelitian naturalis Inggris itu pada pertengahan abad ke-19.
Ketua Pelaksana FTJ 2026 sekaligus Sekretaris Daerah Halmahera Barat, Julius Marau, menyebut kegiatan ini bukan sekadar napak tilas. “Dodinga menyimpan nilai sejarah yang luar biasa. Melalui ekspedisi ini, kami ingin mengajak masyarakat memahami bahwa daerah ini pernah menjadi ruang penelitian yang berkontribusi terhadap perkembangan ilmu pengetahuan dunia,” ujarnya.
Mengapa Dodinga Dianggap Situs Sains Dunia?
Di kawasan inilah Wallace mengamati keanekaragaman flora dan fauna hingga berhasil menyusun naskah ilmiah tentang teori evolusi melalui seleksi alam. Naskah tersebut kemudian dikirimkan kepada Charles Darwin pada 1858 dan menjadi tonggak penting dalam sejarah biologi modern.
Selama ekspedisi, peserta diajak mengunjungi Benteng Dodinga dan area pengamatan hayati yang pernah menjadi lokasi riset Wallace. Perwakilan Dinas Pariwisata Provinsi Maluku Utara, Azis Momanda, memberikan penjelasan langsung di lapangan. Ia menekankan bahwa warisan terbesar Wallace bukan hanya catatan ilmiah, melainkan cara pandang menjaga hubungan antara manusia dan alam.
Dari Napak Tilas Menuju Destinasi Eko-Edu-Wisata
Julius Marau menambahkan, pengenalan jejak sejarah ini merupakan langkah strategis memperkuat identitas Halmahera Barat di kancah internasional. Ke depan, kawasan Dodinga berpotensi besar dikembangkan menjadi destinasi Eko Edu Wisata yang mengintegrasikan pendidikan, penelitian, konservasi, dan pariwisata berkelanjutan.
Pelestarian situs sejarah dan lingkungan di Dodinga kini disebut menjadi tanggung jawab bersama. Nilai-nilai edukasi dari ekspedisi ini diharapkan terus diwariskan kepada generasi mendatang, tidak hanya sebagai cerita masa lalu, melainkan sebagai fondasi pembangunan daerah berbasis sains dan alam.