MALUKU UTARA — Kobaran api yang melahap deretan bangunan semi permanen di tepi rel Stasiun Depok Baru itu menyisakan pemandangan memilukan. Kayu gosong, lembaran seng bengkok, dan sisa barang dagangan berserakan di sepanjang trotoar. Bau hangus masih tercium kuat, bahkan asap tipis masih terlihat membumbung dari beberapa titik reruntuhan saat angin berembus ke permukiman warga.
Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (DPKP) Kota Depok mendata sedikitnya tujuh unit usaha yang hangus. Mereka yang kehilangan tempat usaha antara lain pemilik kios laundry, lapak rongsok, bengkel motor, bengkel cutting sticker, konter pulsa, warung kopi, dan kios burung dara.
Berdasarkan pendataan sementara, api pertama kali diduga berasal dari korsleting listrik di sebuah kios laundry. Material bangunan yang mudah terbakar membuat api merambat dengan cepat ke bangunan lain di sekitarnya.
Suhardi (45), warga sekitar, mengaku menyaksikan langsung detik-detik awal kebakaran. Ia melihat api muncul dari kios laundry dan dalam hitungan menit sudah menjalar ke bangunan lain. “Angin juga lumayan kencang, jadi susah dikendalikan,” ujarnya saat ditemui di lokasi, Selasa (16/6/2026).
Bersama warga lain, Suhardi sempat berupaya mengevakuasi barang-barang milik pemilik kios. Namun, besarnya kobaran api membuat upaya itu sia-sia. “Yang bisa diselamatkan cuma sedikit. Selebihnya sudah habis,” katanya.
Warga lain, Pia (38), menambahkan bahwa kebakaran terjadi saat kawasan itu masih padat aktivitas. Asap tebal yang tiba-tiba membubung membuat warga panik dan berhamburan keluar. Petugas kemudian mengarahkan warga di sekitar rel kereta api untuk menjauh guna menghindari risiko yang lebih besar.
Hingga Selasa pagi, garis pembatas berupa pita kuning masih terpasang di beberapa titik area terdampak. Pita itu menandai zona penyelidikan yang masih berlangsung oleh pihak berwenang. Proses penghitungan total kerugian material akibat kebakaran juga masih dilakukan.
Meski tidak ada korban jiwa dalam peristiwa ini, puluhan warga berhasil dievakuasi saat proses pemadaman berlangsung untuk menghindari risiko yang lebih besar.
Bagi warga Kampung Lio, kebakaran ini tidak hanya menghanguskan bangunan fisik. Lebih dari itu, peristiwa itu menghapus sumber mata pencaharian yang selama ini menjadi penopang ekonomi keluarga. Banyak pemilik kios kini hanya bisa berharap adanya bantuan dari pemerintah atau donatur agar dapat kembali membangun usaha yang telah hilang dilalap api.