MALUKU UTARA — Rapat yang digelar di kantor pusat Danantara itu dihadiri oleh pucuk pimpinan PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk, PT Bank Mandiri (Persero) Tbk, PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk, dan PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk. Dony Oskaria langsung memimpin diskusi yang berlangsung sepanjang hari.
Dalam pertemuan tersebut, Dony didampingi oleh tim manajemen risiko dan portofolio investasi Danantara. Sumber internal yang mengetahui agenda rapat menyebutkan bahwa fokus utama adalah mengevaluasi realisasi kinerja kuartal kedua 2026. Salah satu poin krusial yang dibahas adalah pencapaian target penyaluran kredit dan upaya menjaga rasio kredit bermasalah (non-performing loan/NPL) tetap di bawah ambang batas aman.
“Ini bukan sekadar rapat rutin. Ada tekanan target yang harus dicapai, terutama dalam mendorong sektor produktif dan program pemerintah,” ujar sumber tersebut.
Topik lain yang mengemuka adalah penguatan sinergi antar-empat bank pelat merah. Dony Oskaria mendorong agar Himbara tidak hanya bersaing secara internal, tetapi justru berkolaborasi dalam pembiayaan proyek-proyek besar. Kolaborasi ini diyakini bisa menekan biaya dana dan mempercepat eksekusi di lapangan.
“Sinergi di antara bank BUMN harus diperkuat, terutama dalam pembiayaan infrastruktur dan program prioritas nasional,” tegas Dony dalam sela-sela rapat.
Hasil pertemuan ini dinanti oleh para pelaku pasar dan pelaku usaha. Pasalnya, arah kebijakan kredit dari bank-bank Himbara akan langsung mempengaruhi suku bunga pinjaman UMKM dan korporasi. Keputusan yang diambil dalam rapat ini juga berpotensi mempengaruhi target dividen yang akan disetorkan ke kas negara melalui Danantara.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada pernyataan resmi dari masing-masing bank mengenai hasil detail rapat. Namun, sinyal evaluasi ketat ini menjadi indikasi bahwa pemerintah serius mendorong efisiensi dan profitabilitas BUMN perbankan di bawah komando Danantara.