MALUKU UTARA — Bulog tak hanya sibuk menyerap gabah petani. Pekan lalu, perusahaan pelat merah ini menggelar Focus Group Discussion (FGD) bersama mahasiswa se-Bandung di Kompleks Pergudangan Utama Bulog Cimahi, Jawa Barat. Kegiatan bertajuk “Peran Kampus dalam Mewujudkan Swasembada Pangan Berkelanjutan untuk Cadangan Pangan Pemerintah” itu menjadi ruang belajar terbuka bagi generasi muda.
Mahasiswa diajak langsung melihat pengelolaan stok beras, mengecek kualitas, hingga memahami infrastruktur pascapanen. “Penguatan swasembada pangan tidak hanya dari sisi produksi, tetapi juga kemampuan negara menyerap hasil panen, menjaga cadangan, dan memastikan pangan tetap terjangkau,” ujar Ahmad Rizal dalam siaran pers, Senin (25/5/2026).
Data terbaru menunjukkan stok beras Bulog kini 5,36 juta ton—rekor tertinggi. Total kapasitas penyimpanan mencapai 6,2 juta ton dan akan terus diperkuat seiring kenaikan produksi padi nasional. Dari sisi pengadaan, Bulog telah menyerap 2,8 juta ton beras dari target 4 juta ton.
Capaian itu tak lepas dari peringkat kedua Indonesia di dunia dalam kenaikan produksi padi versi FAO, di atas Brasil dan Myanmar. “Kami menjalankan peran sebagai instrumen negara menjaga ketersediaan, keterjangkauan, dan stabilisasi pangan,” tambah Ahmad Rizal.
Bulog memiliki jaringan gudang, logistik, hingga fasilitas pengolahan gabah dan beras yang tersebar di seluruh Indonesia. Tahun ini, perusahaan akan menambah infrastruktur pascapanen di 100 titik baru. Langkah itu jadi strategi jangka panjang untuk mempertahankan swasembada pangan dan memperkuat kualitas hasil panen petani.
Melalui FGD ini, Bulog berharap kampus tak sekadar jadi penerima informasi. “Mahasiswa bisa menghadirkan riset, inovasi, dan komunikasi publik yang konstruktif untuk masa depan pangan Indonesia,” pungkas Ahmad Rizal.