Stok Beras Bulog Tembus 5,36 Juta Ton, Rekor Tertinggi Sepanjang Sejarah

Penulis: Indra Firmansyah  •  Selasa, 26 Mei 2026 | 16:42:01 WIB
Stok beras Bulog mencapai rekor tertinggi 5,36 juta ton pada 2026.

MALUKU UTARA — Bulog tak hanya sibuk menyerap gabah petani. Pekan lalu, perusahaan pelat merah ini menggelar Focus Group Discussion (FGD) bersama mahasiswa se-Bandung di Kompleks Pergudangan Utama Bulog Cimahi, Jawa Barat. Kegiatan bertajuk “Peran Kampus dalam Mewujudkan Swasembada Pangan Berkelanjutan untuk Cadangan Pangan Pemerintah” itu menjadi ruang belajar terbuka bagi generasi muda.

Mahasiswa diajak langsung melihat pengelolaan stok beras, mengecek kualitas, hingga memahami infrastruktur pascapanen. “Penguatan swasembada pangan tidak hanya dari sisi produksi, tetapi juga kemampuan negara menyerap hasil panen, menjaga cadangan, dan memastikan pangan tetap terjangkau,” ujar Ahmad Rizal dalam siaran pers, Senin (25/5/2026).

Stok Beras 5,36 Juta Ton, Serapan Capai 2,8 Juta Ton

Data terbaru menunjukkan stok beras Bulog kini 5,36 juta ton—rekor tertinggi. Total kapasitas penyimpanan mencapai 6,2 juta ton dan akan terus diperkuat seiring kenaikan produksi padi nasional. Dari sisi pengadaan, Bulog telah menyerap 2,8 juta ton beras dari target 4 juta ton.

Capaian itu tak lepas dari peringkat kedua Indonesia di dunia dalam kenaikan produksi padi versi FAO, di atas Brasil dan Myanmar. “Kami menjalankan peran sebagai instrumen negara menjaga ketersediaan, keterjangkauan, dan stabilisasi pangan,” tambah Ahmad Rizal.

Infrastruktur Pascapanen Ditambah 100 Titik Tahun Ini

Bulog memiliki jaringan gudang, logistik, hingga fasilitas pengolahan gabah dan beras yang tersebar di seluruh Indonesia. Tahun ini, perusahaan akan menambah infrastruktur pascapanen di 100 titik baru. Langkah itu jadi strategi jangka panjang untuk mempertahankan swasembada pangan dan memperkuat kualitas hasil panen petani.

Melalui FGD ini, Bulog berharap kampus tak sekadar jadi penerima informasi. “Mahasiswa bisa menghadirkan riset, inovasi, dan komunikasi publik yang konstruktif untuk masa depan pangan Indonesia,” pungkas Ahmad Rizal.

Reporter: Indra Firmansyah
Sumber: pasardana.id This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top