HALMAHERA TENGAH — Kepiting kenari atau Birgus latro yang selama ini hanya diandalkan dari tangkapan alam mulai mendapat perhatian serius dari akademisi. Tiga peneliti Fakultas Perikanan Universitas Khairun Ternate menginisiasi program domestikasi di Desa Gemia, Kecamatan Patani Utara, Kabupaten Halmahera Tengah, Maluku Utara.
Ketua tim peneliti, Dr. Mufti Abdul Murhum, mengatakan model penangkaran yang dikembangkan menggunakan wadah terkontrol bernama Birgus Tera Box. "Kita berdayakan mereka dengan Kelompok Penangkar Kepiting Kelapa (B.latro)," katanya, Minggu (17/5/2026).
Program ini didanai oleh Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi melalui skema Bima tahun 2026. Targetnya, kelompok penangkar di desa tersebut mampu mengadopsi Teknologi Tepat Guna untuk meningkatkan produksi sekaligus menjaga keberlanjutan populasi kepiting kenari.
Kepiting kenari merupakan salah satu sumber daya perikanan andalan di Maluku Utara. Potensinya tersebar di hampir seluruh pulau di provinsi tersebut. Namun, selama ini masyarakat hanya mengandalkan hasil tangkapan dari alam, sebuah praktik yang berpotensi menurunkan populasi secara drastis.
Tanpa upaya budidaya, keberlanjutan spesies ini di alam terbuka terancam. Domestikasi menjadi pilihan untuk memutus ketergantungan pada tangkapan liar.
Tim peneliti yang terdiri dari Dr. Mufti Abdul Murhum, Dr. Waode Munaeni, dan Dr. Aqshan S. Nurdin mengembangkan model penangkaran dengan pendekatan rekayasa. Proses domestikasi meliputi pemijahan buatan, pembesaran benih, hingga rekayasa pakan buatan.
Wadah terkontrol Birgus Tera Box menjadi kunci utama. Alat ini dirancang untuk meniru kondisi ideal bagi pertumbuhan kepiting kenari dari fase larva hingga dewasa, sesuatu yang sulit dilakukan di alam terbuka.
Program tidak berhenti pada riset laboratorium. Tim peneliti langsung turun ke lapangan. Kegiatan diawali dengan sosialisasi, koordinasi, dan pelatihan penguatan kapasitas bagi mitra, yaitu kelompok penangkap kepiting kelapa setempat.
"Kita awali dengan sosialisasi, koordinasi dan pelatihan pengguatan kapasitas mitra," ujar Mufti. Acara tersebut dihadiri oleh pemerintah desa, tokoh masyarakat, serta ketua dan anggota kelompok penangkar.
Setelah tahap awal ini, tim akan melanjutkan dengan pendampingan teknis budidaya dan manajemen usaha. Proses pendampingan dijadwalkan berlangsung dari Mei hingga Desember 2026.
Menurut Mufti, tujuan utama kegiatan ini adalah pemberdayaan. Kelompok penangkar diharapkan tidak hanya mampu membudidayakan kepiting kenari secara mandiri, tetapi juga meningkatkan pendapatan dan menjamin keberlanjutan usaha mereka.
Dengan model budidaya berbasis Teknologi Tepat Guna di Desa Gemia, skema ini diharapkan menjadi percontohan bagi desa-desa lain di Maluku Utara yang memiliki potensi kepiting kenari serupa. Keberhasilan domestikasi akan menjadi kunci agar sumber daya alam ini tidak habis di alam.