HALMAHERA BARAT — Sekitar 400 warga Suku Wayoli dan Suku Sahu menggelar nonton bareng film dokumenter ‘Pesta Babi’ di kawasan Telaga Rano, Desa Sasur, Kecamatan Sahu Timur, Minggu (10/5). Acara ini menjadi ajang konsolidasi masyarakat adat untuk menolak rencana eksploitasi panas bumi oleh PT Ormat Geothermal Indonesia di hutan adat mereka.
Film dokumenter itu diputar dalam acara bertajuk ‘Barang Panas di Telaga Rano’. Kisahnya mengangkat perjuangan masyarakat adat di Papua Selatan. Koordinator kegiatan, Tiklas Pileser Babua, mengatakan film ini sengaja dipilih karena kemiripan dengan kondisi warga Halmahera Barat.
“Di Papua Selatan digambarkan perlawanan masyarakat adat melalui simbol sasi salib dan unsur leluhur. Itu memiliki kemiripan dengan garis perjuangan masyarakat adat di wilayah Suku Wayoli dan Sahu,” ujar Tiklas di sela acara.
Lewat pemutaran film dan diskusi terbuka, masyarakat adat di Desa Sasur memperkuat sikap menolak aktivitas PT Ormat Geothermal Indonesia di kawasan Telaga Rano. Tiklas menegaskan persoalan ini bukan sekadar proyek investasi, melainkan menyangkut ruang hidup masyarakat adat.
“Lewat diskusi dan nobar ini kami berharap masyarakat adat tetap menanamkan konsistensi perlawanan terhadap PT Ormat Geothermal Indonesia. Ini bukan hanya soal proyek, tetapi soal ruang hidup masyarakat adat,” katanya.
Tokoh perempuan Desa Sasur, Agnes Kuadang, mengaku film itu membuka wawasannya tentang nasib masyarakat adat di daerah lain. Ia menilai kegiatan ini membuat masyarakat semakin sadar pentingnya menjaga hutan dan sumber kehidupan mereka.
“Film ini membuka pikiran kami bahwa banyak daerah adat mengalami persoalan yang sama. Kami jadi lebih memahami pentingnya menjaga tanah dan hutan adat,” kata Agnes.
Hal senada disampaikan Dwi Salatu, salah satu pelopor perjuangan masyarakat adat Sasur. Ia menilai diskusi semacam ini mampu memperkuat solidaritas warga dalam menjaga kawasan Telaga Rano.
“Kegiatan seperti ini sangat baik karena masyarakat bisa mendengar langsung pandangan sesama warga dan belajar dari perjuangan masyarakat adat di daerah lain,” ujarnya.
Selama acara, puluhan warga terlibat dalam sesi diskusi. Beberapa peserta menyampaikan kekhawatiran terkait potensi dampak eksploitasi panas bumi terhadap hutan adat dan sumber air di Telaga Rano.
Kegiatan ini dihadiri masyarakat adat, mahasiswa, aktivis lingkungan, jurnalis, sosiolog, dan komunitas pecinta kopi D’Pata. Mereka datang dari sejumlah desa di sekitar kawasan Telaga Rano untuk mengikuti acara dari awal hingga akhir.