Pencarian

Survei Fifpro: 49 Persen Pesepak Bola Putri Pertimbangkan Pensiun Dini

Senin, 12 Oktober 2026 • 18:50:32 WIB
Survei Fifpro: 49 Persen Pesepak Bola Putri Pertimbangkan Pensiun Dini
Survei Fifpro terhadap 800 pesepak bola putri menemukan 49 persen mempertimbangkan pensiun dini.

MALUKU UTARA — Survei global Fifpro terhadap 800 pesepak bola putri menemukan 49 persen di antaranya mempertimbangkan pensiun lebih awal dari rencana. Tekanan finansial dan stres psikologis jadi dua alasan utama, mengungkap jurang antara pertumbuhan pesat industri sepak bola putri dan kondisi nyata para pemainnya.

Laporan ketenagakerjaan global Fifpro 2026 bertajuk "Working Conditions in Women's Football" disebut serikat pemain dunia itu sebagai tinjauan paling luas terhadap kondisi kerja di sepak bola putri dalam satu dekade terakhir. Dari 800 pemain yang diwawancarai, disparities tajam terungkap di hampir semua aspek.

Dari mereka yang berencana gantung sepatu lebih cepat, 59 persen menyebut situasi finansial sebagai alasan dan 46 persen menunjuk stres psikologis. Angka-angka ini memperlihatkan bahwa pertumbuhan pesat kompetisi tidak otomatis menjamin kesejahteraan pemain di lapisan bawah.

Upah Naik Tiga Kali Lipat, tapi Tetap di Bawah Upah Minimum

Rata-rata upah bulanan klub yang disesuaikan dengan inflasi memang naik tiga kali lipat sejak studi global Fifpro 2017, kini mencapai 2.601 dolar AS. Namun angka median jauh lebih rendah, yakni 1.669 dolar AS, menggambarkan pertumbuhan yang oleh laporan disebut "tidak merata dan terfragmentasi".

Di 10 negara Eropa Timur yang dianalisis, rata-rata gaji pemain masih berada di bawah upah minimum nasional. Bahkan di Eropa Barat dan Asia/Oseania yang mencakup beberapa pasar terbesar sepak bola putri, rata-rata bayaran tidak jauh lebih tinggi dari upah minimum setempat.

Data lain memperkuat gambaran kerentanan: hanya 56 persen pemain memiliki kontrak kerja, 13 persen menerima pensiun klub, dan 47 persen menyatakan klub mereka kekurangan staf. Rata-rata durasi kontrak naik dari 12 bulan pada 2017 menjadi 19 bulan, sementara proporsi pemain yang punya agen melonjak dari 14 persen ke 41 persen.

Kesehatan Mental Jadi Sorotan, Separuh Pemain Tak Dapat Dukungan

Sebanyak 57 persen pemain mengaku pernah bergulat dengan masalah kesehatan mental. Separuh dari jumlah itu mengatakan klub tidak memberikan dukungan apa pun. Temuan ini menempatkan kesehatan mental sebagai persoalan struktural, bukan sekadar kasus individual.

"Industri sepak bola putri sudah berkembang jauh," kata Direktur Sepak Bola Putri Fifpro, Alex Culvin. "Tetapi bagi 95 persen pemain lainnya, masih sangat jauh jalan yang harus ditempuh."

Culvin menyoroti pola kerentanan yang berulang. Menurutnya, persoalan bukan hanya soal perlakuan dan bayaran yang adil, tetapi juga ekspektasi profesional yang dibebankan kepada pemain tanpa dukungan kondisi kerja yang memadai.

"Ada tema berulang soal ketidakpastian dan kondisi yang rapuh," ujar Culvin. "Bukan hanya dalam hal perlakuan dan remunerasi yang adil, tetapi juga ekspektasi yang dibebankan pada pemain ini, ekspektasi profesional yang tidak berjalan dalam situasi profesional karena kondisi yang diberikan kepada mereka jauh dari optimal."

Fifpro Desak Standar Minimum yang Mengikat

Fifpro menyerukan standar minimum yang dapat ditegakkan, mencakup aspek upah, fasilitas, kepegawaian, dan layanan kesehatan, untuk dimasukkan ke dalam perjanjian kerja di tingkat nasional. Dari 30 liga putri nasional yang dianalisis, hanya delapan yang memiliki perjanjian kolektif dengan pemain melalui serikat mereka.

Fifpro juga mendesak dukungan psikologis dijadikan kewajiban, bukan pilihan. Tanpa payung regulasi yang jelas, kondisi kerja pemain berisiko terus bergantung pada kemurahan klub masing-masing.

Proteksi Kehamilan Jadi Satu-satunya Titik Terang

Satu area yang menurut Fifpro menunjukkan kemajuan nyata adalah perlindungan kehamilan. Sejak FIFA memperkenalkan standar minimum global untuk kehamilan pada 2021, proporsi pemain yang mempertimbangkan meninggalkan sepak bola untuk berkeluarga turun menjadi 19 persen, dibandingkan 47 persen pada 2017.

Angka itu membuktikan regulasi yang mengikat bisa mengubah keadaan. Fifpro berharap pendekatan serupa diterapkan pada aspek lain, terutama upah dan kesehatan mental, agar sepak bola putri tidak hanya tumbuh di atas kertas, tetapi juga di ruang ganti.

Follow lensaternate.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: theguardian.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks